Cerita ini berawal dari aku nemuin dokumen bersejarah bagi keluarga. Mungkin lebih tepatnya kala ditinggalkan dokumen ini dari (Almh)Mama. Setelah dibaca, jadi tau ternyata asal kita semua darimana. (memang pastinya dari sananya..hehehe) Siapa nenek moyang kita, nenek, kakek, sepupu nenek kakek, sepupu ayah ibu, tante, om, sepupu, keponakan, cucu,cicit dan seterusnya. Gak kebayang aja ternyata keluarga ini besar sekali. Aku yakin semua pasti setuju kalau dikumpulin bener2, Balai Kartini gak mungkin muat untuk bikin kumpul2 keluarga besar. Sekarang udah ada yang inisiatif bikin profile keluarga di Facebook, mungkin bisa diterusin lagi untuk bikin sesuatu agar kita semua saling kenal dan akrab. Seperti pesan Opa, agar silatirahim tak terputus, kudu rajin2 ngumpulin keluarga. So, bikin arisan yuuukk(hehehe..ibu2 sekali ya..) Oke, mari kita mulai dari sepenggal sejarah siapa nenek kakek buyut itu. Maaf kalau ada yang kurang lengkap, berhubung dokumennya agak rapuh dan kesulitan ku baca tulisan jaman dulu (maksudnya ejaan dan istilah2 jaman kala itu..maklum beda generasi)
Ayah dan Ibu dari R. Moehammad Joesoef:
Ayah berasal dari Minangkabau, Kampung Bukit Batabuah, Suku: Piliang.
Bakat beliau diwaktu itu adalah bertukang dan berniaga (hmm..Padang sekali). Pada akhir tuanya beliau mempunyai perusahaan percetakan bernama Drukkery AGAM (maaf kalau salah penulisan, kertasnya udah ketempel2, jadi ada beberapa yang gak kebaca) dikenal di Bukit Tinggi dan sekitar Sumatera Barat bahkan Sumatera Utara- Medan, Koeta-Radja dan Palembang (sukses sekali buyut kita).
Beliau kurang paham membaca dan menulis. Tapi dengan keahliannya tadi, beliau diangkat menjadi salah satu kepala perusahaan percetakan. Anak2 beliau takjub dan amat menghargai kepintaran beliau sampai urusan yang sulit2 untuk ke tanah Jawa, beliau lah yang uruskan. Biarpun berhadapan dengan kaum kapitalis Belanda.
Di waktu muda macam2 pekerjaan yang dilalui, termasuk pencak silat, istilah akhir ini jagoan yang mestinya pada tiap2 pemuda diwaktu itu (hmm maksudnya jagoan kampung kali ya..agak bingung dengan maksud Opa untuk kata yang satu ini). Sekolah masa itu masih tertentu oleh penjajah Belanda dan jarang dimasuki semaunya saja, dilihat, diselidiki dulu pecahan {keturunan} siapa kamu. (bersyukur kita2 ini bisa sekolah.)
Terjadinya ini pada pertengahan abad ke 19, Opa amat disayang oleh beliau dan apa kehendak diwaktu kecil sampai meningkat sekolah dituruti dan diberi oleh beliau. Beliau meninggal di Bukti Tinggi Kampung Birugo tahun 1921 dalam usia lebih kurang 95th, dikebumikan di kampung Birugo, hari ketujuh puasa, diwaktu Opa akan menikah sehabis puasa itu. Syukur sebelum meninggal beliau menyertai dan memufakati perundingan pernikahan Opa dan Oma Bia.
Ibu berasal dari Minangkabau juga, Kampung Talu, Lubuk Sikaping. suku: Djambak.
Nggak banyak tentang masa muda beliau yang dapat diceritakan Opa. Tapi yang diketahui dari orang2, kalau nenek buyut sejak dulu hidupnya sudah merantau ke Bukit Tinggi . Beliau memiliki dua saudara yaitu Fatimah dan Ibrahim.
Setelah menikah dengan kakek buyut Raman gelar Menteri Ameh, mereka pindah ke daerah Padang Pandjang dimana kakek buyut bekerja sebagai penjaga bui.
2 April 1901 lahirlah Opa dan mereka pindah ke Bukit Tinggi dimana setelah itu kakek buyut mengurus usaha percetakannya. Walaupun kehidupan mereka cukup berada, nenek buyut tetap bekerja sebagai juru masak bagi Opsir dan dokter2 orang Belanda dan berjualan di waktu sore hari. Beliau meninggal pada masa penjajahan Jepang pada usia (yang diperkirakan) 105 tahun. Kala itu Opa berada di Malang (th 1943) dan tidak dapat pulang untuk menemui beliau karena keadaan yang cukup sulit untuk berpergian.
Ibunda dari R. Moehammad Joesoef.
Berasal dari daerah Minagkabau juga kampung Talu. Beliau sejak dulu kata orang sudah sering merantau ke Bukit Tinggi. Tidak banyak beliau menceritakan masa mudanya. Nama ayahnya pun tidak dapat diketahui, hanya beliau memiliki 2 saudara, yang tua namanya Ibrahim dan Fatimah saudara perempuannya. Beliau inilah yang mengasuh saya sejak kecil.
Setelah pertemuan pertama tadi barulah Ibunda berkawin dengan ayahanda Raman gelar Manteri Ameh tersebut. Kami bersaudara diwaktu membuat sejarah ini, selain saya, telah lama meninggal dunia. Tersebut juga oleh Ibunda bahwa ayahanda menjadi penjaga bui yang mana pada zaman itu tidak sembarang orang bisa menduduki posisi tersebut.