![]() | ||
| Buyut Marhaban Dt. Bandaharo Pandjang dan Buyut Moeni beserta Oma Djanewar, Oma Dalima dan Injik Rasoel |
![]() |
| Oma Rabiah dan Oma Dalima |
Ayah dan Ibu dari Rabiah dan Djanewar (istri kedua2nya dari R. Moehammad Joesoef)
Ayah berasal dari Minangkabau Kampung Banuhampu, luak Agam, Bukit Tinggi. Suku: Piliang
Setelah tamat dari sekolah nya di desa, beliau mengembara di sekitar daerah Minangkabau dan menjadi seorang jago. Banyak pemuda yang segan kepada beliau karena itu jarang sekali ada yang bisa menandinginya. Beliau juga sering menjadi target pengejaran orang Belanda karena kejagoannya (sirik aja ya Belanda itu, ngelihat orang pintar bela diri)
Beliau dilahirkan di dalam bui, dikarenakan ibunda beliau dituduh membunuh 4 orang di tengah sawah.Padahal masa itu beliau sedang hamil tua. Kejadiannya pada saat subuh di kala beliau tengah mengambil air, saat itu masing2 saling menuduh sehingga beliau dijebloskan ke bui. Kakek buyut pun lahir di dalam bui dan diasuh siang harinya oleh ibunda dari pembuat sejarah ini karena ayahanda nya adalah penjaga bui ini. Setelah 6 bulan akhirnya beliau dibebaskan karena diputuskan, tidak masuk akal seorang wanita yang sedang hamil tua dapat melawan 4 orang pria jago di kampung itu (kenapa mesti nunggu 6 bulan ya untuk berpikir seperti itu, logika aja lah. Ini mencerminkan tata hukum negara kita dari lama sudah amuradul kayaknya).
Dari sinilah telah ada sangkut paut hubungan antar dua keluarga ini. Di waktu muda, kakek buyut menjadi tukang batu bersama Ibrahim (pamannya Opa). Beliau akhirnya menikah dengan nenek Moeni dan mendapat gelar Datuk Bandaharo Pandjang dikarenakan beliau juga seorang penghulu ternama di kelarasan Banuhampu.
(Oke, sedikit mengenai gelar diatas, ini merupakan kata2 Opa yang aku copy paste langsung dari teks nya).
Lama gelar pusako ini dipakai orang, yaitu tuanku laras Banuhampu, karena beliau belum menghiraukan gelar pusako itu. Empat tahun berturut-turut lamanya merebut gelar pusako itu dengan tuanku laras Banuhampu sampai keseluruhan Lubuk Agam turut berdiri dibelakang beliau tidak sampai disitu, bahkan sampai ke lubuk Batipuh dan Batusangkar Sungajang.Tidak sedikit ongkos yang ditelan dalam perkara tersebut. Adat di Minangkabau, beristri lebih dari satu sudah menjadi darah daging apalagi kalau kita penghulu pandiko pulo (comment: no wonder adat ini terus dilanjut sampai jaman sekarang. You know what I mean..)
Kiri kanan datang jemputan kepada beliau (jemputan itu apa sih?) , kalau dapat beliau elakkan, beliau akan elakkan juga. Sampai ada kata2 yah, beliau kawin dengan orang dagang. Ada juga beliau terpaksa menerima perkawinan, tapi beliau tidak pulang2 karena takut dengan ibunda, kemungkina petunjuk juga dan pengalaman yang beliau telah lalui. (Oke, mengerti sekarang jemputan itu adalah perempuan2 yang diminta untuk supaya dinikahi oleh beliau..wuidih,,Don Juan sekali)
Setelah Opa menikah, beliau banyak membantu Opa dan menjaga nya sampai ke tanah Jawa, padahal banyak keponakan dan orang2 yang harus diurus di kampung. Belaiu meninggal pada usia 75th di Surabaya dan dimakamkan disana.
Ibunda Moeni.
Tidak banyak yang dapat diceritakan Opa mengenai beliau. Setelah menikah dengan Oma Rabiah, Opa hanya mengetahui kalau nenek Moeni memiliki ayah yang fanatik dalam keadaan di waktu itu dan memiliki dua anak yaitu Siti Aisjah dan nenek Moeni. Fanatik disini mungkin lebih ke soal pendidikan, karena diceritakan disini bahwa dua bersaudara itu kurang diperhatikan untuk bersekolah oleh kakek buyut (bersyukur kita perempuan2 di keluarga ini masih bisa sekolah)
Sebelum menikah dengan kakek buyut Dt. Bandaharo Pandjang, nenek Muni pernah menikah namun tidak memilki keturunan.
Siti Aisjah (saudara nenek Moeni) menikah dengan guru Dja'afar yaitu ayah dan ibu dari saudara Roesli, Roestam dan Roeslan. Ibunda dan ayahanda mereka sudah lama meninggal dunia.
Karena didikan dari ayahanda dan ibunda Moeni tadi, yang tidak terlalu memperhatikan masalah sekolah, hal ini pun diturunkan juga sampai ke cucunya.
Walaupun kakek Dt. Bandaharo Pandjang bekerja sebagai pemborong dan pemborong ini tidak berjalan terus-menerus, nenek Moeni amat kuat berdagang berjualan kue-kue bermacam ragam. Guna disamping hobinya namun juga sebagai pendapatan tambahan untuk kehidupan sehari-hari (hidup orang Minang!memang jago dagang semua). Sampai di hari tuanya pun beliau tetap berdagang untuk cucu2nya.
Beliau meniggal dunia di Jakarta dalam usia lebih kurang 65 th di Jl. Lombok no.47 pada tahun 1958 di bulan Januari tanggal 21 dalam asuhan anak beliau Djanewar.
Dari sinilah asal muasal kita semua dan kepada kakek dan nenek buyut yang telah mendahului kita Opa selalu berpesan untuk sering mendoakan mereka semoga mereka mendapat tempat disisiNya dan segala amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT. Amin.

