10 Sep 2011

Masa Perkembangan - Anak ke 1 dan ke 2


 
Oma Rabiah dan Opa R.Moehammad Joesoef
 
Opa dan Oma Rabiah pembuat sejarah ini menikah pada 10 Juni 1921 di Bukit Tinggi, sebulan setelah Ayah dari Opa meninggal dunia. Hadir seluruh keluarga dari pihak Opa dan Oma (sama lah kayak pernikahan Joesoef jaman sekarang, like I said, Balai Kartini juga gak akan cukup kalau dikumpulin semua). Tidak dapat dituliskan oleh Opa betapa meriahnya pesta pernikahan mereka karena ini merupakan pernikahan pertama dari anak tertua masing-masing keluarga. Apalagi kedua orangtua dari mempelai merupakan yang telah banyak dikenal penduduk Bukit Tinggi kala itu. Ibunda Moeni yang telah banyak menyumbangkan tenaganya, ditambah pula ayahanda Dt. Bandaharo Pandjang yang seorang penghulu yang bukan pula tidak dikenal oleh penduduk Bukit Tinggi.
 
Setelah menikah, Opa bekerja di rumah sakit militer di Bukit Tinggi lebih kurang 6 bulan setelah akhirnya dipindahkan ke Aceh Langsa. Semenjak masih duduk di bangku sekolah Opa gemar berolahraga, dapat pula beliau menduduki tempat yang disukai oleh penonton olahraga, malahan waktu di hari pernikahannya pertandingan diadakan pula, berkebetulan dengan penutupan Aidil Fitri, maka itu dapat dimengerti pernikahannya dihadiri banyak pihak (ohh, jadi karena itu pesta nya rame..hehehe). Pada waktu beliau pulang, adik-adik dari Oma Rabiah saat itu masih kecil, Djanewar, Dalima dan Rasoel yang terkecil, saat itu masih berumur 4 tahun. Anak ayahanda, Darwis masa itu berada di Betawi, tanah Jawa. Dia dimasih kecil, merupakan teman sekolah Opa saat bersekolah di H.I.S. Berteman dengan Darwis bukanlah sebatas perkenalan sekolah saja, melainkan dari pertalian batin antara kami, kata Opa. Saudara Darwis meninggal dunia di Betawi pada tahun 1922 dan dikuburkan di Kampung Melaju Maester-Cornelis. Sebelum meninggal dia telah dikawinkan di Bukit Tinggi dikirim ke Betawi diantarkan oleh ibunda Moeni sampai meninggalnya sebulan setelah kawin. Perkawinan ini tidak membawa keturunan. Beliau meninggal pada usia 18 – 20 tahun. 

Diwaktu Opa menikah, seperti dijelaskan diatas beliau bekerja di rumah sakit militer yang mana, upahnya cukup dimakan, sedangkan ayah bunda beliau pun bukan orang berada. Walaupun ada peninggalan rumah, tapi tidak mewah, sederhana saja katanya. (great value lesson, bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang). Pernikahan Opa dan Oma Rabiah berjalan rukun dan harmonis. Mereka tinggal di rumah Bukit Tinggi bersama ayah bunda Dt.B. Pandjang/Moeni dan saat itu Oma Rabiah tengah hamil anak pertama.

Anak ke-1 Juniar Joesoef

 8 Juni 1922, lahirlah anak pertama mereka yang diberi nama Juniar Joesoef di Bukit Tinggi, juga merupakan cucu pertama bagi ayah bunda Dt.B.Pandajang/Moeni. Tidak dapat digambarkan betapa bahagianya Opa mendapat anak perempuan yang akan menggantikan ibunya dan dapat mengasuh mereka di kemudian hari. Disini pulalah tertuang kasih sayang seorang nenek terhadap cucunya. Bagi Opa dan Oma, tak dapat mereka rasakan bagaimana mengurus anak karena monopoli dari sang nenek. Juniar diasuh oleh neneknya dan telah dianggap selayaknya anak sendiri serasa Oma dan Opa bukanlah ayah bunda nya. Semasa kecil, Juniar sering sakit-sakitan dan hanya pada saat harus dibawa ke dokterlah kesempatan bagi Oma dan Opa untuk merasakan rasanya mengasuh anak. Juniar masih saja diasuh nenek Moeni, dan dididik yang bahasanya adalah saudara sampai memanggil ayah dan ibunya Uda dan Ijah (abang dan kakak) walaupun mereka tinggal serumah. Juniar oleh nenek Muni dibuat sebagai obat djarih pararai damam teruntuk dia sendiri (ini agak kurang dimengerti, maksudnya apa tuh obat ini). Seperti kata pepatah; Masih kecil dibawa-bawa, sudah besar terubah tidak. Waktu berjalan terus dan roda
kehidupan tak berubah. Oma Rabiah telah hamil setahun setelah itu. 

Anak ke-2 Soefrie Joesoef


 Dan lahirlah anak kedua, pada 12 September 1923, seorang anak lelaki yang diberi nama Soefrie Joesoef di Bukit Tinggi. Dengan lahirnya Soefrie, dapatlah mereka berdua mengasuh dan merasakan nikmatnya memiliki anak, karena keadaan yang lalu telah memberikan contoh pada mereka dan tidak diberi kesempatan seprti Juniar. Obat djarih pararai damam pula bagi mereka (obat ini lagi yang dibahas, kayaknya harus tanya sama tetua di keluarga apa maksudnya obat ini).
Seiring waktu berjalan, Soefrie kecil telah beranjak besar dan sudah pandai berjalan, ada kalanya kakak beradik berselisih. Keadaan yang begini rupanya tak dapat diitinggalkan berlarut-larut dan akhirnya Opa berikhtiar untuk mencari rumah tempat tinggal lain dan dibicarakan pula hal ini kepada Oma Rabiah. Mau tidak mau, kemudian beliau menurut. Mereka mendapat rumah diatas, Ngarai nama kampungnya tidak jauh dari rumah yang di pasar. Rumah Belanda yang sama-sama tempat Opa bekerja di rumah sakit militer. Perabot rumah dibeli sedkit demi sedkit namun tak sedikit pula yang dipinjam dari rumah sakit. Sering pula Juniar dibawa ke rumah baru, namun sorenya telah diambil oleh nenek Moeni seolah ada cegahan halus terhadap Oma dan Opa. Perpisahan serumah ini ternyata tidak berlangsung lama, kita manusia tidak dapat menentukan terlebih dahulu apa yang terjadi dimuka kita. Umur setahun Soefrie, kami dipindahkan ke Kota Radja Aceh dimana Opa bekerja dahulu sewaktu muda. Diwaktu dahulu Opa berada di Aceh, saudara Moch Jasin telah bersama Opa sampai pada Opa pulang kembali ke Padang dan saat ini kembali lagi ke Aceh, beliau masih berada di sana. Diwaktu ini Opa pindah ke Sigli, tidak jauh dari Kota Radja.
Kepindahan ke Aceh ini membawa akibat buruk, Juniar tidak diperbolehkan dibawa bersama. Kalau dibawa, bisa terjadi sengketa yang mendalam, kata-kata yang keluar, anak itu dibelah dua saja. Bagaimana perasaan mereka, ayah ibu dari Juniar, tak dapat mereka tuliskan. Nasihat dari Dt.B.Pandjang, turutilah dahulu, nanti kalau ada kesempatan, akan diantarkan kepada Oma dan Opa. Dengan perasan sedih, akhirnya mereka berangkat ke Teluk Bajor terus ke Aceh diantar oleh ayahanda Dt.B. Pandjang. Dua hari kami di kapal sampai pula lah mereka di Aceh, tanah rencong di pelabuhan Oelee lheu dan dijemput saudara Moeh Jasin. Sekarang mereka berada di Kota Radja Aceh 7 Juli 1924. Setelah lebih kurang sebulan tinggal di rumah keluarga yaitu engku Manteri Tjandu Koeta Radaja, ada berseluk beluk istrinya denga ibunda Moeni dan akhirnya Opa dan Oma mendapat sebuah rumah tak jauh dari rumahnya.

Tidak ada komentar: