25 Sep 2011

Masa Perkembangan - Anak ke 5, ke 6 dan ke 7



Anak ke-5 Nazar Joesoef

Diwaktu kami kembali pindah ke Bukit Tinggi dan diam bersama kembali, keadaan Juniar tidak berubah mendekati kami masih diam-diam. Dalam bidang berolah raga setiap sore saya perhebat dan saya terus memasuki kesebelasan Militer EMM namanya. Hari, bulan dan tahun silih berganti juga tidak sedikit dia berhenti , ibunda Rabiah berbadan dua kembali. Ini tidak begitu kami hiraukan, karena kalau akan melahirkan adalah dimuka ayah dan bunda dan kampong sendiri.  

Pada 22 Oktober 1928 lahirlah pula seorang anak laki-laki kami beri nama Mohammad Nazar Joesoef di Bukit Tinggi. Nazar semenjak kecil sudah sering sakit dan banyak pengasuhnya, ialah adinda Dalima yang dalam sehari-hari selalu dalam dukungannya. Bukit Tinggi sekali setahun selalu diramaikan pacuan kuda dan disamping itu diadakan pasar malam baik untuk amal, maupun hal yang lain2. Saya sebagai olahragawan tetap duduk dalam panitia keramaian ini. Ini pulalah buat kami puncak keramaian di Bukit Tinggi dan setelah ini terhenti kesemuanya dan kembali seperti biasa tadi. Tapi olah raga berjalan terus sekali dalam sebulan kami dipanggil atau mendatangkan pertandingan. Kalau dipanggil ke Sawah Lunto, Padang dan sekitarnya. Ibunda Moeni setelah kami berada kembali di Bukit Tinggi dan telah banyak mempunyai cucu keadaannya sedikit ada perubahan akan tetapi Juniar telah menjadi darah daging kepadanya. Dari kecil terbawa-bawa sampai besar berubah tidak. Kelakuannya masih kelihatan. Diatas telah diceritakan bahwa ibunda Moeni tidak ada menghentikan tangan baik dikala ayahanda dapat borongan walaupun tidak beliau terus berdagang membuat kue-kue. Diwaktu ayahanda tidak bekerja kami pulalah bersama-sama mencari kehidupan sehari-hari. Sekarang tibalah waktunya anak yang telah besar dimasukkan kesekolah pertama Juniar dan sesudah itu Soefri. Tidak sama sekolah mereka seorang di VSM dan seorang di HIS. Tempo2 ada juga datang pertengkaran anak-anak disisihkan bersekolah padahal kedua sekolah itu sama saja. Malahan VSM itu guru2nya lebih pandai2 dari HIS kalau kita tidak mengerti memang ada mendatangkan kecurigaan. Tahun berganti juga kami memasuki tahun 1929. 

Mendapat kabar dari Saremban tanah Melayu suami adinda Djanewar meninggal dunia setelah terlebih dahulu anknya yang pertama yang sulung meninggal. Waktu suami Djanewar meninggal, dia dalam berat. Dapat permufakatan ibunda Moeni akan mengambil untuk dibawa pula dan kebetulan pula ada keluarga yang akan berangkat kesana. Ibunda berangkat dan tidak lama kira2 satu bulan setengah pulang bersama adinda Djanewar. Betul Djanewar dalam berat dan pada 3 Agustus 1929 lahirlah seorang anak laki2 dan diberi nama Zainuddin. Sudah pada tempatnya pula Zainuddin menganggap saya sendiri orang tuanya sendiri karena sayalah yang selalu hari dilihatnya, 10 bulan tuanya dari Moeh Nazar dari Zainuddin. Termasuk dalam jalan sejarah ini Zainuddin anak keenam.

Anak ke-6 Zainuddin

Setelah Zainuddin lahir lima sudah anak kesemuanya laki2 terniatlah oleh saya kalau adinda Rabiah beranak lagi bermohonlah saya kepada yang Kuasa perempuan hendaknya dan nasar ini saya sampaikan untuk mendaki ke gunung Singgalang semoga Tuhan member permohonan ini. Pemberian perkembangan kepada manusia adalah rezeki dari yang Maha Kuasa. 

Anak ke-7 Sofia Johanna Joesoef

 Waku berjalan terus tak lama ibunda Rabiah berbadan dua lagi. Pada 22 Juni 1930 lahirlah seorang anak perempuan dengan selamat di Bukit Tinggi dan kami beri nama Sofia Johanna Joesoef. Amat bergirang kami mendapat anak perempuan dikabulkan Tuhan permohonan kami dan sekarang telah ada tandingannya dalam anak beranak. Ibunda Moeni dengan lahirnya Anna disebut Anna namanya, telah banyak kendor dalam mendidik Juniar. Tapi sekarang dia berkisar kepada ayahanda Dt.B Panjang inilah yang diakuinya orang tuanya. Kami tetap besabar. Sekarang Ibunda Moeni tertuju perhatiannya kepada anakanda Dalima yang mana kian hari umur dan rumadja bertambah juga dan tiba pulalah saatnya untuk dipersuamikan. Dalam berpikir-pikir dan melihat akan bakal suaminya, datanglah dengan tidak sengaja E. Abd Aziz suami rangkayo Kiam yang juga berada di Palembang , Boestaman namanya bekerja sebagai Klerk di Pelabuhan Palembang. Maut dan jodoh tidak dapat kita manusia mengetahui terlebih dahulu, perundingan dicari hari baik bulan baik guna melangsungkan perundingan ini. Pada hari yang telah ditentukan dikawinkan lah adinda Dalima sedang suaminya tidak dapat hadir hanya berwakil saja. Peralatan dimeriahkan dengan semeriahnya sampai didatangkan musik Ambon dari tangsi Militer, disamping pula hadiah pelesiran dari kawan2 yang lain. Tidak pula kalah dari peralatan orang lain kala itu. Dalam setelah berapa hari kawin tibalah waktunya berangkat ketempat suaminya Boestaman di Palembang. Diantar oleh ayahanda Dt.B.Pandjang dan tidak berapa lama beliau kembali.

Jam berjalan terus, hari bertukar bulan bulan bertukar tahun. Tidak satupun manusia yang dapat menentukan hari datangnya selain Allah Yang Maha Kuasa. Anak-anak kami berkian hari bertambah besar, Johanna meningkat keumur setahun Juliar pun telah dimasukkan ke sekolah HIS di tangsi. Kehidupan kami di Bukit Tinggi tidak banyak perubahan selain tambahnya turunan. Menjelang pertengahan tahun 1931 kami dikejutkan menerima telegram dari Palembang mengabarkan Dalima dalam sakit dan dalam berbadan dua. Kesibukan yang tiba2 ini menggemparkan kami kesemuanya, maklum kami kurang dari ada. Tapi walaupun bagaimana juga salah seorang harus berangkat ke Palembang guna mendekati adinda Dalima. Dapat perundingan bersama ibunda Moeni berangkat ke Palembang guna menjaga Dalima. Tidak berapa lama setelah ibunda berangkat, yang tidak disangka-sangka kami dikejutkan lagi dengan surat kepindahan kami ke Bandung ditempatkan di kantor besar Departemen van Oorlag. Tidak dapat dikatakan kami berbesar hati dengan kepindahan ini karena ibunda sendiri tidak dapat mengikuti, karena beliau akan mengawinkan cucu beliau yang dalam taraf perundingan dengan kemenakan ipar saya sendiri. Kepindahan ini pula tidak dapat akan ditunda, karena ini adalah perintah dari baas saya yang lebih tertinggi di Bandung yang mana dahulunya semasa di Aceh berpangkat Kapten. Sebelum berangkat kami mengadakan lelang untuk barang2 yang tidak dapat kami bawa besama dan pendapatannya nanti akan pembayar utang- utang yang ada. Selesai dengan pendapatan lelang ini dibayar akan segalanya. Maka pada 29 September 1931 berangkatlah kami ke Padang agar 1 Oktobet 1931 dapat meneruskan perjalanan dengan kapal ke tanah Jawa. Kesemuanya kami berangkat anak beranak , adinda Djanewar , Moeh Rasul serta ayahanda Dt. B Pandjang, sedangkan ibunda Muni telah sebulan ke Palembang. Pada saat kami diwaktu siap-siap akan berangkat kami mendapat kabar pula bahasa adinda Dalima dengan ibunda Moeni telah berada di Surabaya tidak lagi dengan suaminya yang lama, melainkan dengan saudara R. Sanoesi. Apa-apa sebabnya tidak perlulah diceritakan dalam sejarah ini. Sesampainya kami di Betawi dapatlah kabar bahwa adinda Dalima telah melahirkan seorang anak perempuan di Surabaya. Saudara R. Sanoesi pada waktu itu menjadi commies redaktur di CKC Surabaya. Kami semuanya di Tanjung Priok dijemput oleh sdr. Tamimi St Rumah Tinggi keponakan ayahanda. Di Bandung kami dijemput pula oleh sdr. Tahjuddin seorang yang telah saya kenal semasa bersekolah bersama di Bukit Tinggi. Dirumahnyalah kami menumpang sampai kami dapat rumah tidak lama setiba kami, di rumah pemerintah di Sanintan Tjipahit Bandung. Di Bandung kami sekarang anak beranak berada. Bandung kota ternama, kota terbesar ketiga seluruh Jawa setelah Surabaya. Banyak tontonan banyak pelesiran, kotanya cantik, bersih, orangnya lemah lembut. Kata orang di Jawa: Erst Bandoeng zien en dan sterven. Kata orang Minang: Siapa yang tinggal di Bandung, tabundung. Banyak suka dan duka tinggal di Bandung, kalau kurang pandai menjalankannya. Tidak sedikit pegawai pemerintah yang jatuh hidupnya di Bandung karena untuk baik benar pendapatannya, apalagi yang kecil-kecil. Inilah hidup yang bakal kami hadapi. Di Bandung sekarang kami berada. Setelah urusan sekolah anak-anak dapat diselesaikan dapat bersekolah di HIS Tjipahit pula yang bersekolah Juniar, Soefri, Juliar menyusul Zaharief, Moh Nazar dan Zainuddin belum mencukupi umur masih dirumah. Di kantor DvO setelah diperkenalkan sekalian sejawat sekerja, saya langsung menghadap baas yang tinggi yang saya sebut diatas. Dia menayakan apa anak-anak disekolahkan, dimana dapat tempat dan apa keperluan rumah tangga telah ada dan disuruhnya kami agar berurusan dapat mengambil di kantor lelang “Wijs” yang telah dikabarkannya lebih dahulu agar diberi. Dengan mengambil beberapa barang yang amat diperlukan, maka disinilah mulanya kami masuk perangkap utang. Sebab utang ini setiap bulannya tidak dapat minta diundurkan. Saya tidak dapat mengetahui terlebih dahulu apa dan siapa dan bagaimana kantor lelang Wijs ini. Kemudian baru dapat mengetahui pribhasa di Bandung: Wie met wijs handeld is niet wijs Tadi telah saya terangkan Bandung negerinya cantik, bersih karena dinginnya penduduk amat ramah tamah halus budi tapi mengikat. Tidak lama kami berada di Bandung bulan suci Ramadan pun tiba dan akan menyusul lebaran. Satu hari dan yang mulia Ramadan yang segala umat Islam merayakan secara setempat pula. Silih berganti situkang piutang datang, dari si Arab, si Cina kerumah masing2 menonjolkan barang-barang walaupun uang sendiri biar sebulan dua tidak dahulu dibayar. Disini pula keahlian si tukan piutang dan takbur pula yang berutang. Mau tidak mau terpaksa pula kami mengambil utang sedikit karena keperluan tentu ada. Pakaian yang dibutuhkan anak-anak amat murah disegala toko besar-besar. Yah, kita teruskan hidup di Bandung. Rumah Sanintan makin lama terasa kecil diikhtiarkan meminta yang lebih besar dapatlah kami pindah ke Rijpwijk 36. Ripjwijk ini tidak berjauhan hanya kelas rumah lebih dari yang tadi, rumah pemerintah di Bandung berkelas-kelas. Rupanya pada kelas yang lebih tinggi lebih berani pula si tukang piutang memberi utang, mengutangkan apa saja dipandang kepada tingkat ambtenaarnja.Tepat pribahasa orang Minang diatas. Sekarang ibunda Moeni yang d Surabaya hendak ke Bandung ayahanda Dt. B. Pandjang ada pada kami, dengan permufakati bersama adinda Djanewar datang ke Surabaya menggantikan ibunda dengan membawa anakanda Zainuddin. Berganti tempat mereka itu, guna mendampingi adinda Dalima beranak kecil. Sekarang kembali ayah bunda itu berada dilingkungan kami di Bandung. Peredaran dunia berjalan terus, matahari berganti dengan bulan, waktu, hari bulan dan berganti tahun, silih berganti kesemuanya. Utang sudah mulai kami tutup dan buka pula kembali akan tetapi banyak lubang dari pada tertutup. Tidak akan saya lupakan selama saya masih hidup apa lagi kalau duduk bermenung yang pada suatu hari saya libur anak-anak kami pulang satu persatu padahal sekolah tidak libur. Apa sebab? Setelah ditanya oleh ibunya sebab mereka pulang ternyata uang sekolah belum dibayar. Sebab pada jaman penjajahan Belanda uang sekolah harus tanggal lima dihari bulan mesti dibayar. Seperti itik pulang petang saja anak-anak pulang. Nah terpaksa tidak dapat dielakkan lagi pada sorenya kami berdua harus mencari lubang baru pula guna penutup uang sekolah ini. Hal yang begini rupa tidak sering lagi terjadi. Ada juga terjadi tapi tidak semua disuruh pulang dengan lekas kami lunasi. 

Tidak ada komentar: