27 Sep 2011

Masa Perkembangan Kedua - Anak ke 10

Dalam masa perkembangan tadi kita ceritakan bahwa ibunda Rabiah tidak ada lagi berada disekitar anak-anaknya, baru saja kami pulang kembali mengebumikan jenazahnya. Tinggal kami berduka cita yang tak terhingga dengan memangku bayi kecil itu, diberi nama Fieteke Sofiati, bayi yang belum menikmat kasih sayang ibunya. Dikala ibunda meninggal tadi saya masih bekerja di Tjimahi di garnizoen garnitropen. Ketidak datangan saya di kantor selama dua hari oleh kawan sekerja yang di DvO dimintakan permisi per telepon apa yang lantaran sebabnya dan setelah saya kembali baas dan kawan2 memberi salam turut berduka cita. Saya dalam sepekan itu diperbolehkan telat masuk ke kantor guna mengurus karena ibunda Moeni sudah tidak sanggup rasanya dipagi hari memandikan dan menukar kainnya si bayi. Terpaksa saya mengerjakan ini terlebih dahulu serta membendungnya sekali. Sebab sudah pada tempatnya pula seorang ayah bisa mengerjakan sedemikian.
Marilah kita teruskan fase perkembangan kedua seterusnya. Hampir sebulan lebih kurang setelah kejadian yang tidak dapat kami lupakan seumur hidup kami, datanglah perubahan. Saudara Rd. Sanoesi dengan istrinya Dalima datang ke Bandung mengunjungi kami anak beranak. Kami masih tetap berdiam di rumah lama di Djelekong. Dengan permufakatan kami bersama, ayahanda dan ibunda melihat ibunda Moeni tidak akan sanggup rasanya mengurus seterusnya bayi kecil ini, Fieteke akan dibawa mereka ke Surabaya. Rupanya perundingan yang lain tidak setahu saya telah diselesaikan pula oleh mereka. Tidak lama di Bandung saudara R. Sanoesi dan Dalima kembali ke Surabaya dan tidak berapa lama setelah itu adinda Moeh. Rasoel menyusul kesana karena telah dapat bekerja di Surabaya. Dalam bulan Juni 1937 itu juga datanglah adinda Djanewar bersama anakanda Zainuddin dan dapatlah dia bersama Moeh. Nazar bersekolah kembali. Pada tanggal 12 Juni 1937 dilangsungkan perkawinan kedua dengan adinda Djanewar di Djelekong Bandung, kata rang di Minang: Mengganti lapiak. Adinda Djanewar lah yang rupanya akan meneruskan sampan hidup yang masih terkatung-katung di lautan penghidupan ini. Serta menjagai anak-anak yang banyak ini. Lubang-ubang yang tinggal masih ada yang belum ditutupi walaupun bagaimana dianya teliti dalam mengendalikan hidup sejarah sebab di Surabaya sudah pula mengetahui asinnya garam ketika bersama tinggal bersama Dalima yang keadaan tidak banyak bedanya, sebab Sdr .Sanoesi pun pegawai pemerintah juga, namun mau tidak mau Djanewar terpaksa menjalankan roda keadaan tadi. Sedikit ada perubahan. Pertama-tama terniat oleh ayahanda akan pindah dari rumah Djelekong ini karena beberapa anak-anak sering beriba hati mengenang ibunya yang telah meninggal. Niat beliau itu kami setujui sepenuhnya dan beliau telah mendapat rumah mendekati tengah kota Bandung di jalan Paledang di belakang hotel besar letaknya di tengah-tengah keramaian kota. Sedangkan sekolah anak-anak yang sekarang untuk yang besar sudah meningkat ke sekolah menengah tidak berapa jauh letaknya dari rumah. Kami pindah dari Djelekong ke Jalan Paledang no.1 walaupun beberapa kawan-kawan yang membilangkan bahwasanya rumah itu ada penghuninya. Tetapi berdiri pada kebenaran dan menuruti pesuruh Tuhan, mudah2an segala pembicaraan itu tak akan terjadi. Rumah lama kami serahkan kembali kepada hartawan dermawan tadi walaupun telah banyak uang kami terhambur di rumah itu. Setahun setengah kami berada di Jalan Paledang saudara R. Sanoesi bersama Dalima datang meliati kami sambil membawa Fieteke dan berziarah ke makam ibunda Rabiah. Tempat saya bekerja tidak berubah, masih di Tjimahi pula yang mana setiap pagi berangkat naik sepeda dan melanjutkan perjalana dengan KA ke Tjimahi yang tempo2 tidak jarang melanjutkan dengan sepeda ke Tjimahi. Diwaktu kami di jalan Paledang lah ibunda saya sendiri berada di Bandung tinggal tidak jauh sejajar dengan kami beliau menjaga cucu-cucu, beliau yang diceritakan dahulu kemenakan saya sendiri Djubok bersama suaminya yang mengikuti kursus guru tinggi di Bandung. Moh Nazar pula namanya keponakan sendiri dari ayah si Djoebok ipar saya. Ibunda saya sendiri menahannya karena di rumah di Bukit Tinggi banyak pula yang masih diurus beliau cucu yang lain masih ada dan dirumah tidak ada pula untuk menjaganya. Setahun setelah kami bersama, beliau kembali ke Bukit Tinggi dengan perasaan yang sedih serasa bagi saya inilah yang penghabisan pertemuan kami. Nazar dan Djoebok dalam masa itu masih di Bandung sebab kursusnya belum selesai dan harus menanti tempatnya yang baru. Dalam masa itu ada pula saudara Roesli berkunjung ke rumah kami yang di Jalan Paledang becuti dianya ke Bandung sampai kami beramai-ramai naik kuda, mandi-mandi di Marabaja Bandung. Air panas mujarab untuk mandi. Pertengahan 1938 Nazar suami Djoebok lulus dalam kursusnya dan dipindahkan ke Banjarmasin Borneo dan istrinya untuk sementara waktu tinggal di Bandung sampai mendapat rumah. Djoebok adalah kemenakan saya anak dari saudara saya yang tertua, dia ini banyak meninggalkan keturunan. Rumah di Banjarmasin tidak berapa dari berangkatnya telah dapat dan saya sendirilah yang mengantarkan sampai ke Surbaya dan dari sini dia anak beranak naik kapal ke Banjarmasin.
Selama adinda Djanewar berada di Bandung banyak pula kesusahan2 yang dihadapannya pendek kata kedua periode ini berjalan bersamaan akan tetapi dia ulet menjagai anak-anaknya. Kedukaan ini kami berdua harungi ,mudah-mudahan selamanya juga sampai yang dituju. Hampir masuk tiga tahun kami bersama tinggal di Jalan Paledang, Juniar dalam pada itu meneruskan sekolahnya ke Surabaya, Soefri dan Juliar menamatkan MULOnya di Bandung dan anak-anak yang lain terus bersekolah di Bandung. Kami memasuki tahun 1939 setelah kami tiga tahun berdiam di Jalan Paledang, kami dikejutkan dengan peperangan di benua Eropa.
Mei 1939 negeri Belanda diserbu oleh tentara Jerman, Hindia Belanda Indonesia kita sekarang Belanda nya kucr-kacir. Di Bandung di pusat pemerintahan diadakan segalanya yang harus diselesaikan. Saya dalam pada masa itu di Tjimahi sedang mencari siasat akan berkumpul kembali dan mencari akal supaya dapat pindah dari Bandung. Oleh karena tentara Belanda memperkuat tempat duduknya dimana-mana ditambah tempat-tempat kedudukan mereka dan terbuka pulalah tempat terluang di Surabaya. Dalam bulan Oktober 1939 yang mana peperangan Eropa masih terus dan Jepang telah pula mengikuti Jerman dan dapatlah saya dipindahkan ke Surabaya dan menumpang di rumah saudara R. Sanoesi di Sawahan Surabaya. Keadaan berjalan terus peperangan makin mendahsyat kita memasuki tahun 1940. Peperangan telah menjadi peperangan dunia telah merembet sini dan Indonesia kita. Belanda seperti tadi diceritakan telah setahun bersiap-siap memperkokoh kedudukannya di Hindia Belanda. Kepindahan telah dijalankan dengan tidak memperhitungkan akibat-akibat lainnya. Jepang telah memaklumkan perang Asia Timur Raya, Belanda tidak boleh tidak termasuk dalam kancah ini. Pada tanggal 8 Desember 1941 Belanda terpaksa memaklumkan perang pula terhadap Jepang. Pada hari itu pula lah segala rahasia pindah perang harus dibuka dimana masing-masing mereka jikalau perang jadi ditempatkan. Dimana saya karena saya termasuk dalam rahasia pindah perang ini. Pada tanggal tersebut diatas hari itu juga mesti berangkat dan ditempatkan di Madura Bangkalan. Paling lambat setelah dibukanya surat rahasia kita masing-masing siap untuk menunaikan tugas dan saya berangkat di pagi hari itu ke Madura melalui Kamal bersama-sama tentara Belanda KNIL yang lain-lain meninggalkan keluarga dan begitulah juga yang menerima tugas perang ini.

Djanewar saat itu saya tinggal dalam berat hamilnya.
Pada tanggal 27 Desember 1941 lahirlah seorang anak kami laki-laki dan kami beri nama Sjafrie Joesoef. Sempat juga saya datang ke Surabaya di C.B.Z dimana adinda Djanewar melahirkan. Keadaan kota Surabaya suram yang banyak berkeliaran hanya tentara yang berbaju hijau saja. Dimana-mana terlihat oleh kita asap yang naik ke langit apakah akan atau telah diadakan bumi angus tak dapat kita ketahui, tapi pengungsian sudah dimulai. Api peperangan telah berkobar, rakyat Kuning telah memasuki tanah Melayu dengan maksud pertama mendatangi Singapura. Dalam pada itu tentara Belanda di Madura bersiap-siap mundur ke Jawa kembali jauh ke Jawa Timur ke kaki gunung Semeru akan bergerilya. Rupanya Belanda sulit akan mempertahankan Hindia Belanda nya yang luas ini yang beratus ratus pulau. Ambon yang kuat pula pertahanannya telah diincar oleh Jepang, mereka telah sampai dekat perairan Makassar. Singapura pertahanan terkuat oleh Inggris jatuh dan Hindia Belanda menanti saat nyawanya terbang. Kami yang tadinya akan ke gunung Semeru tertahan dan berkampung di Malang. Dengan jatuhnya Singapura tadi Jepang telah mendekati tanah Jawa ditiga tempat mereka mendarat, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Diwaktu dilemparkannya bom pertama di Surabaya masih sempat saya datang kesana meliati anak-anak, kabar konon bom jatuh kedekat rumah kami di Baluran, betul juga setelah dimalam itu berada di Surabaya sesampai disana sunyi senyap dan mereka sudah tidak ada lagi di rumah. Malam itu setelah melihat kejadian ini saya teruskan lagi ke Sawahan tempat sdr R. Sanoesi dan saya dapatilah sekalian mereka itu berada disana. Kesemua anak-anak ada selain dari Juliar, karena dia terpaksa mengikuti L.B.D dan saya tidak dapat mengetahui dimana dia berada. Keesokan harinya pagi-pagi baru saya kembali ke pos saya di Malang karena saya berdiam dalam tangsi tentara Belanda bersama-sama yang lain. Jam malam oleh Belanda telah lama diadakan dan kalau keluar dari tangsi harus terlebih dahulu angka-angka jawaban pertanyaan. Diwaktu ini pulalah saya dipagi hari dapat bertemu dengan saudara Baharuddin suami Fatimah anak beliau Sjech Djamil Djambek Bukit Tinggi membilangkan mereka tinggal di jalan gang Arjuna. Untuk malam akan meninggalkan tangsi keadaan sudah genting betul. Jawa Timur dimasuki tentara Jepang akhir bulan Januari 1942 dan awal Februari Jepang telah sampai ke Kediri.
Keterangan – keterangan peperangan ini sebetulnya tidak termasuk dalam sejarah roda penghidupan kami, akan tetapi dengan keadaan peperangan ini kami bercerai – berai kembali mau tidak mau peperangan ini terpaksa dimasukkan. Marilah kita teruskan kembali. Bersama yang diam di tangsi ada juga kawan yang di militaireseer dan kami kesemuanya sudah bersiap pula adalah kata nanti tertawan baju preman telah berada dalam zak kami masing2 dan kami bersiap sudah barang yang ada telah dikeluarkan ke kampung Loewuk Waru ditempat salah seorang teman. Uang dikantor bertumpuk-tumpuk tapi bagaimana akan membawanya sekaliannya uang perakan kertas telah dikemasi oleh Belanda baas masing2. Ini pula kelicikan Belanda di waktu perang karena keluarga mereka berkeliaran diluar dan kota yang berdekatan. Keesokan harinya setelah saya menitip barang – barang yang ada, jam 10 pagi Jepang memasuki Malang dan terus ketempat kami, komandan pasukan ini mengambil tempat dimana tempat komandan kami di dalam tangsi. Sorenya kami diberi penerangan tidak boleh meninggalkan tempat lagi dan siapa siapa tentara Belanda yang diluar harus sore itu juga kembali. Saya dan beberapa kawan tadi telah diceritakan telah siap dengan pakaian sipil kami. Kami semua rupanya di interneer dan penjagaan Jepang telah diadakan. Saya beberapa hari setelah itu keluar sebagai seorang pekerja di sore hari dan setelah melalui jaga, menerangkan saya sebagai pekerja diperbolehkan lekas keluar dan berada di rumah karena jam telah menunjukkan waktu malam, terlepas saya dari sini dan beramai-ramailah kami yang seperuntungan menepat di Luwok Waru itu.
Malang sepi seperti kuburan di tengah malam, kami sore itu menjelang malam termenung semuanya mengenangkan anak istri yang jauh dari kami karena segala perjalanan terputus akiat bumi angus Belanda. Ke Surabaya di Porong jembatan K.A didinamit oleh Belanda terputus dan akan berjalan kaki amat jauh mobil jauh dari ada. Terpaksa kami menunggu nasib di Malanag. Tiga hari kami kesemuanya tidak keluar hanya duduk termenung makan dan tidur. Bagi saya, teringat perktaan sdr. Baharuddin yang bahasa dia tinggal di gang jalan Arjuna. Saya beranikan diri di siang hari bersepeda mencari rumah sdr.Baharuddin dengan cepat dan saya dapati dirumah hanya istrinya sedangkan dia dikantor masih bekerja karena kantornya masih buka. Hari itu juga saya pindah ke rumahnya di sore hari dan malamnya mendapti kabar bahwasanya Juliar anak saya berada di Sukun di asrama L.B.D. Paginya saya jemput dan bersamalah kami di rumah sdr.Baharuddin.
Ketika perhubungan Malang – Surabaya pulih kembali dengan arti KA. hanya sampai Porong saja sebelum station dari sini penumpang harus jalan kaki melewati jembatan kali Porong untuk menggabungkan kembali pada K.A yang meneruskan ke Surabaya.
Perjalanan ini hampir memakan hari sehari sorenya kami sampai hanya di Wonokromo tidak boleh sampai stasiun Gubeng sebab jembatan dirusak pula. Kini kami harus meneruskan perjalanan ke Sawahan dihari hampir jam malam yang diadakan Jepang, Mau tidak mau kami teruskan perjalanan ini berdua berjalan kaki san barang2 dengan sepeda. Jalan sepanjang Wonokromo – Sawahan sunyi gelap seorang manusia tidak bertemu di jalan. Perjalanan diwaktu damai tidak sebegitu jauh, sekarang serasa berpuluh-puluh K.M rasanya apalagi sunyi. Hampir kami sampai di Sawahan kami dikagetkan oleh penjaga Jepang yang berjaga sekat rumah Sanoesi. Sebab disebelah di rumah sdr. Sanoesi ini ada rumah sekolah yang dipergunakan oleh Jepang tempat menyimpan alat-alat perang. Dalam ketakutan itu kami meceritakan, bahwa kami datang dari Malang dan akan kembali ke rumah sebelah ini. Dengan tidak diduga-duga rupanya ada dari mereka yang mengetahui bahwasanya saya orang tua dari Soefrie dan kami diantar dengan baik ke rumah. Dirumah kami dapati kesemuanya anak-anak dan percakapan malam itu sampai menanyakan ini itu. Soefrie rupanya menjadi tolak marka Jepang,itulah sebabnya kami diperlakukan baik oleh serdadu Jepang. Dalam penjagaan tadi. Sekarang berada kembali di tengah-tengah keluarga.
Surabaya kota mati ketika itu, perdagangn lumpuh kesemuanya, kantor2 banyak yang tidak dibuka, toko2 tertutup sebab empunya hampir kesemuanya mengungsi ke lain tempat. Rupanya kepada mereka yang kantornya masih tutup, pendeknya yang berinduk semang dengan Belanda sulit akan dapat bekerja kembali ataupun menggabungkan dengan kantor yang lain orang dalam ketakutan kesemuanya. Sekolah – sekolah pun hampir kesemuanya pula masih tertutup apalagi kalau ada berguru bangsa Belanda juga disebabkan murid-murid banyak yang belum kembali ke kota dibawa oleh orang tuanya masing2 mengungsi. Saya menganggur beberapa lama tetap dirumah dan tempo-tempo jalan melihat keadaan sekitar Surabaya pada kantor2 yang masih tutu apalagi kantor yang semacam saya sendiri. Menjelang hampir dua bulan baru terbaca di surat kabar yang sebulan yang lalu terbit kembali, bahwa kepala mereka yang kantornya masih tertutup atau belum dibuka dan pegawai2 belum bekerja harus mendaftarkan diri dan dapat pula akan diberi tunjangan di tempat mereka asalnya. Disamping itu pula dapatlah saya kembali ke Malang. Berkebetulan saja ada konvoi Jepang yang disebelah rumah yang akan ke Malang, dapatlah kami menumpang dan ikut pula ayahanda Dt.B.Pandjang untuk melihat-lihat keadaan disana. Di Malang di tempat lama di kantor Balai Kota setelah mendaftarkan diri, betul saja mendapat tunjangan keeseokan harinya dengan oerjanjian kalau ada panggilan harus bekerja kembali, tapi kapan panggilan itu belum kami kesemuanya dapat ketahui. Dua hari saya di Malang dan kembali menanti panggilan ke Surabaya. Surabaya kata saya tadi kota mati dimana-mana kita melihat asap, asap bekas bumi angus dan sedikit bersedikit mereka yang menguasai kembali.
Perundingan kami di rumah baik bersama kita datang kembali dengan anak2 yang belum bersekolah selain yang bekerja. Kami berangkat ke Malang. Soefrie dengan kakaknya Juniar telah dapat bekerja di jawatan listrik dalam tingkatan yang tinggi. Di Malang kami anak beranak menumpang di rumah saudara Baharuddin, yang sementara itu telah mendapat yang sedikit besar dari lama di gang situ juga. Dua hari kami di Malang kepada siapa-apa yang telah mendapat tunjangan harus dengan perintah Jepang bekerja kembali di Balai Kota Malang, rupanya guna mengurus pendaftaran Bangsa Asing terutama bangsa Belanda. Kami, yang kebanyakan berasal dari kantor tentara Belanda kesemuanya bekerja disitu ada juga mereka dari kantor lain tapi mereka satu persatu kembali ke kantor lamanya karena kantor itu dibuka kembali dengan di kepalai oleh bangsa kita Indonesia, kesemuanya kami ada 40-50 orang. Gaji tetap dibayar seperti biasa, gaji lama dari yang Belanda juga, yang oleh Balai Kota merasa amat banyak pengeluaran. Pekerjaan pendaftaran ini memakan waktu hampir 8 bulan. Dan selama itu pula kami mendapat gaji penuh. Tidak berapa banyak lagi bangsa Belanda yang didaftar, hanya meneruskan saja yang ketinggalan, kami semua diperhentikan oleh Balai Kota. Selain yang penting2 saja yang dipergunakan, termasuk juga saya sendiri sekarang hanya tinggal 6 orang saja. Pekerjaan kami teruskan, saya dipindahkan ke tempat lain yaitu menjadi Kepala Kantor Pekerjaan namanya. Saya dalam pekerjaan pendaftaran itu, telah berumah sendiri di Taloon gang 6 Malang. Disini pulalah sinar sejarah baru memancar kepada kami anak-beranak. Pertama-tama karena masuknya Jepang ke Indonesia ini, segala utang-utang yang bersangkutan dengan rentenir, habis kesemuanya ini bukan untuk perseoreangan tapi keseluruhannya. Banyak saya jumpai nyonya Belanda yang datang mendaftarkan diri kekantor yang banyak saya kenali yang terlebih dari nyonya dari opsir atau bawahan tentara KNIL. Ketemulah saya dengan istri baas saya yang sama2 di interner dulu dengan saya dan yang telah lama saya kenal. Dia bersama yang kenal juga suaminya dengan saya datang pada suatu sore ke rumah di Taloon mengajak kami tinggal dirumahnya, karena kemungkinan mereka masuk kamp. Pada suatu sore kami datangi mereka ketempatnya di Loewuk Waru, betul saja dia sedang berkemas-kemas untuk mesti pindah ke kamp. Dalam pembicaraan diterangkannya kesemuanya baranng-barang ini dijagai dan kalau kami meninggal punyailah kesemuanya ataupun kami dibawa Jepang kelain negeri, sampai2 ke perkakas dapur dan sewa rumah setahun diserahkannya kepada kami keeseokan harinya pindahlah kesemuanya ke Loewuk Waru tempat mereka merasa berbahagia mendapat rumah dan perkakas yang serba komplit.
Tadi telah saya ceritakan saya bekerja sebagai Kepala Kantor Pekerjaan yang mana sebetulnya Kantor Perantaraan Pekerjaan yang oleh Jepang semata-mata dan oleh yang berwajib Jepang dinamakan Romukiykai yaitu urusan Romusa. Betul saja bekerja dengan Jepang tidak menentukan jam bekerja ditambah lagi dalam peperangan karena bukan jam Indonesia yang dipakai mereaka melainkan tetap jam Jepang Tokyo. Dapatlah kita mengerti, saya di kantor atau pun di rumah tidak merasa sempat merebahkan diri istirahat tempo2 tentara Jepang itu datangnya di malam buta tengah malam yang bagi mereka baru jam 6 pagi, datang meminta romusa dan beginilah boleh dibilangkan berturut-turut. Rumah saya jauh letaknya dari kantor, malam kalau ada bahaya udara, yang kami oegawai diharuskan datang ke kantor amat susah buat saya akan datang. Kesulitan ini terasa benar-benar, hal ini saya bicarakan kepada salah satu opsir Jepang yang selalu memerlukan saya. Disekitar kantor saya banyak rumah opsir Jepang yang selalu memerlukan saya. Disekitar kantor saya banyak rumah opsir2 Jepang bekas rumah Belanda yang baik2 besar yang didiami mereka, rupanya dengan pembicaraan tadi ada saja opsir itu yang pindah, maka rumah ini lekas-lekas saya bicarakan, tepat betul dekat benar dari kantor jalan Immamuradoori yang belakangan menjadi Kertanegara no.3 kosong dengan tidak ada rintangan rumah ini diunjukkan kepada saya dan kami pindahlah kemari dekat dari segala yang ada. Station, kantor, Balai Kota pun sampai kepasarnya.
Kami pindah dari Loewuk Waru kemari ke jalan Kertanegara dengan membawa kesemua barang-barang kami selain dari 2 mobil yang kami serahkan kepada tentara Jepang dengan perjanjian katanya mendapat ganti rugi. Dirumah inilah kami menikmati kesenangan boleh dikatakan amat gembira, apa tidak kesemuanya ada cukup, tidak ada kami merasa berkekurangan dan banyak pula yang kami tambah karena uang ada untuk pembeli. Anak-anak sudah mulai bersekolah kembali yang dirumah hanya Soefian dan Safrie yang masih kecil. Api peperangan Asia Timur Raya bergelora dan keadaan kami sehari-hari tetap baik dan gembira. Kantor saya karena pekerjaan telah mulai besar dipindahkan beredekatan dengan kantor sutjukan (residen) dimuka alun alun Malang. Dari bermacam-macam tempat datang tentara Jepang kepada kami di Malang meminta pertolongan tentang romusa dan kalau mereka ini datang opsirnya selalu saja membawa makan-makan ke restoran dan kebanyakan saya jarang makan di rumah, sebab berganti-ganti saja mereka datang setiap hari. Saya dibelakang hari ini, setelah kantor pindah ke dekat kantor Sutjukan ini telah mendapat kendaraan mobil dan pulang pergi kantor sekarang bermobil. Bertambah derajat kedudukan siapa benar waktu Jepang pegawai yang dapat mobil apalagi seperti negeri kecil Malang.

Tidak ada komentar: