27 Sep 2011

Masa Perkembangan Kedua - Anak ke 13

Anak ke-13 Ratna Sari Halimahtun Saadiah
 
Pada tanggal 17 Januari 1950 lahirlah seorang anak perempuan dan kami beri nama Ratna Sari Halimahtun Saadiah di Semarang. Bersama kami kembali di Semarang di Redjosari dan sekarang ditambah dengan adinda Moehd Rasoel anak beranak. Soefrie telah meneruskan pelajarannya ke Jakarta guna menerima ijasah AMS nya yang waktu itu gurunya berada di Jakarta. Anna ikut pula ke Jakarta untuk meneruskan pelajaran sekarang Juliar telah berada kembali di Surabaya setelah pelajaran selesai di Jakarta. Zaharief telah pula saya kerjakan di Militair Luchtvaafdeeling di Kali Bata Semarang, pun Nazar memulai bekerja pula. Sedangkan Moehd. Rasoel oleh karena ada panggilan dari sdr. R. Sanoesi kembali ke Surabaya karena ditempatkan di kantor Gubernur Jawa Timur, mereka kembali kesana serta ikut ayahanda dan bunda juga. Kami tinggal di Redjosari. Sekarang kembali kita kepada pertempurang dengan Belanda tadi diwaktu kami di Semarang dari adinda Moehd Rasoel dari Surabaya kami mendaoat kabar bahwa anakanda Zainuddin gugur dalam pertempuran ini di Paree dan dimakamkan di desa Ngoro sebelah Paree. Kita bersama meminta kepada Yang Maha Kuasa dilapangkan hendaknya hidupnya dinegeri yang kekal itu. Amin. 

Ketika Ratna Sari tadi lahir, pemerintahan kita Republik Indonesia telah berjalan kembali Bung Karno telah telah berada di Istana Jakarta dan Bogor. Saya masih bekerja ditempat yang tadi diceritakan diatas. Sedangkan Soefrie yang telah lulus dalam ujian itu dengan kembali pemerintah kita dia diangkat menjadi tentara sebagai Letnan satu komandan lalu lintas dari Angkatan Darat Jakarta sampai ke Priok. Menurut perjanjian Meja Bundar Belanda di Indonesia berangsur-angsur harus meninggalkan Indonesia. Mau tidak mau Belanda harus meninggalkan Indonesia dengan tidak pula rakyat kita akan melupakan sepenuh jaman, seperti di Maluku, Makassar, Jepara di Jawa Barat tapi itu ditantang oleh kita kesemuanya. Saya walaupun bekerja dipihak Belanda karena bermula telah mengeluarkan semboyan: Sekali Replubikein tetap Replubikien. Dan sekali Merdeka tetap Merdeka. Berkemas-kemas Belanda di Indonesia kantor-kantor telah diperkecil dijadikan seboleh-boleh satu saja dan kami pun telah bergabung menjadi satu pula. Tiba – tiba datang suruhan Soefrie dari Jakarta untuk datanglah ke Jakarta rumah sudah ada dan segalanya telah diuruskan K.A tinggal naik saja. Kami bersiap-siap di rumah apa-apa yang dapat sekali dibawa, dibawa dan saya tinggal dahulu mengurus yang masih ketinggalan, berangkatlah anak-anak kesemuanya melainkan kami bertiga saja yang tinggal yang masih bekerja Zaharief dan Nazar. Tidak lama setelah itu datang pula pesuruh Soefrie seorang pembantu Letnan membawa tiket kapal terbang untuk saya ke Jakarta. Saya tinggalkan pekerjaan saya begitu saja dan segala yang masih tinggal Nazar dapat menjaganya dengan Zaharief dan tidak lama Zaharief tinggal sendiri di rumah yang yang tidak pula bisa kami lupakan. 

Saya sekarang masih di Jakarta, anak beranak kembali, tinggal kami di Jalan Lombok no.47 akhir bulan Februari tahun 1950. Perabot rumah disediakan dengan jalan berangsur meadakannya. Sebab tidak perlu terburu-buru sebelum saya dapat pekerjaan yang tetap. Rupanya pembaca, sudah hampir saya di akhir jalannya sejarah ini yang panjang, sampai merembet rembet kepada Negara, tersinggung kepada politik, hampir sejarah ini merupakan dokumentasi pemerintah pula, tapi baiklah yang mengenai cerita tadi kita beri pula nama dalam sejarah hidup ada dokumentasi kekeluargaan kita, hal yang tersebut itu berkali-kali saya ceritakan tidak dapat saya lintasi begitu saja, karenanya anak-anak terlipat dalam kancah perjuangan Negara kita Republik Indonesia. Dibawah ini sekarang akan saya ceritakan hal-hal menentukan pekerjaan dimana segala keluarga berada pada tahun permulaan kemerdekaan penuh kita.

Pertama kita kembali kepada anakanda Zainuddin dia gugur sebagai bunga bangsa bermakam di Paree desa Ngoro namanya. Kita berdoa untuknya. Saudara R. Sanoesi dan Dalima dengan anaknya juga termasuk putri kecil yang diceritakan dalam cerita ini juga berada di Surabaya, Sanoesi tetap menjadi skretaris kantor Gubernur Jawa Timur. 
Moehd Rasoel di Surabaya bersama-sama anaknya dan tinggal di jalan Sumatra, dia bekerja juga di kantor Gubernur. 
Juniar dengan suaminya Zainal Zain juga di Surabaya dan tinggal bersama Moehd Rasoel dan pada kemudiannya datang ke Jakarta Zainal berdagang dan telah mendapat rumah. 
Juliar tetap di Surabaya bersama istrinya dan anaknya Erna. Selainnya, kami berada kesemuanya di Jakarta. 
O ya Zaharief berada di Kali Jati Bandung dan sering berada kepada kami, di Angkatan Udara R.I. 
Nazar telah masuk tentara pula dibawah kekuasaan Soefrie, Soefrie masih meneruskan sekolahnya. 
Saya sendiri sekarang bekerja pula di Angkatan Darat T.N.I dibagian Jawatan Topografi dan dapat pula berpangkat Letnan Satu menjadi Kepala Kepegawaian dan Keuangan Topografi untuk seluruh Indonesia. Keadaan kami sekarang berkat keuletan dan taat, menanggung dalam segala haumpama pelajaran telah sampai pada yang dituju. Rupanya perasaan telah ada di Jalan Lombok inilah pula tempat yang terakhir karena pindahan kesana kesini tidak mungkin akan terulang lagi. 

Di jalan Lombok inilah kami mengawinkan Johanna pada pertengahan tahun 1951 dengan Koerwet Kartaadiredja dengan tidak kalahnya pula dengan apa yang telah kami kerjakan selama ini, Anna bekerja pada Kem.Penerangan kita. Perhatian keluarga dan kawan-kawannya juga disertai oleh kawan anak yang lain amat banyaknya. Sekarang tahun yang terasa cepat berputar tahun ke tahun rasanya sebentar saja sudah berpuasa telah datang pula diambang pintu rasanya puasa yang akan datang. Rupanya kalau kita tetap tinggal dalam suatu tempat perasaan lama itu tidak banyak terasa. Saya selalu tournee kian kemari dalam pekerjaan sekarang sampai ke Sumatra di Jawa tidak perlu disebut lagi karena induk semang yang di Topografi ini orang suka berjalan kian kemari. Jawa Tengah disini kampung halamannya Surakarta ini boleh dibilangkan kota tempat makan sehari-hari. Jawa Timur tempatnya berburu, jadi menemui keluarga sekali dalam satu bulan yang ada di Surabaya tetap ada. 
Soefrie pun dalam tahun 1953 telah kawin pula dengan anaknya ex Regent dari Soekabumi yang sama-sama menempuh fakultas di Jakarta. Dia telah mengundurkan diri dari tentara untuk mencapai pangkat Sarjana Hukum di Jakarta dan dapat dia ditempatkan di Kementrian Luar negeri dan lulus dalam Sarjana Hukum itu. Saudara saya yang satu-satunya yang masih ada pada pertengahan tahun lalu berada di Jakarta bersama saya karena dia datang untuk mengurus hal pensiunnya. Rupanya setelah hal ini selesai tidak mau dia ditahan di Jakarta dan berniat akan kembali ke Bukit Tinggi siapa yang akan menjaga rumah orang tua kita tidak ada lagi disana. Sebelum Soefrie ditempatkan di London sebagai sekeretaris pada kedutaan kita R.I, saudara saya Moehd. Said Asin telah berada di Bukit Tinggi. Soefian diwaktu Soefrie ditempatkan di London ikut sekali dengan maksud dapat menerusakn pengetahuannya disana.

Telah berkali-kali saya datang ke Padang - Bukit Tinggi selama saya bekerja di jawatan Topografi A.D. pada bulan September 1956 kami dikejutkan dengan tiligram dari saudara saya di Bukit Tinggi bahwa dia dalam sakit keras dan dalam berkemas akan berangkat , karena adinda Djanewar ikut sekali. Dia sudah lama pula tidak kesana, sambil pula bertemu dengan bako-bakonya yang telah lebih kurang Buki Tinggi ditinggalkannya antara 25 atau 27 tahun tidak pulang. Kami berangkat dengan kapal terbang ke Padang setelah hampir masuk Padang tahu-tahu ibunda Djanewar menjatuhkan air mata teringat pada dahulu kejadian kami bersama. Apalagi setelah sampai di Padang dan Bukit Tinggi. Kami setibanya di Bukit Tinggi hanya mendapati kuburan kakanda Moehd Said Asin yang tanahnya masih merah kami panjatkan doa berdua semoga beliau diberi tempat yang sewajar dengan dia di Alam Baka. Amin. 

Keesokan harinya hari Rabu pergilah kami berdua ke pasar Bukit Tinggi karena bako-bako dari ibunda Djanewar banyak di Pasar. Pada pertemuan ini banyaklah mereka mengekuarkan airmata karena pertama sudah sekian lama baru berjumpa dan mengingat arwah yang terlebih dahulu. Pertemuan serupa ini oleh ibunda Djanewar rasanya tidak dapat dilupakannya selama hidupnya dan keesokan harinya datanglah dia ke kampung karena mereka telah meyediakan pertemuan makan. Ibunda Djanewar berkunjung kesana ditengah-tengah bako-bakonya. Keesokan harinya pula kami melanjutkan perjalanan ke Lubuk Sikaping dengan mobil dan dihari itu juga kami kembali ke Bukit Tinggi. Di Lubuk Sikaping bertemulah pula dengan keluarga dari ibunda Moeni yang masih hidup juga adik dari ayahanda Dt.B.Pandjang yang berdiam disana. Pertemuan dengan karib kerabat ini setelah meninggalkan negeri tempat darah tertumpah telah amat lama sekali mendekati seperempat abad. Di Padang kami kembali bermalam di rumah saudara Djohar sambil menunggu kepulangan ke Jakarta. Ada lebih kurang seminggu kami di kampung. Berada kembali kami di Jakarta setelah meninggalkan anak-anak lebih kurang seminggu karena ibunda Moeni dalam sakit kami tinggalkan. 

Telah kami ceritakan dalam bab diatas dimana mereka meninggal dunia jadi tidak perlu lagi diulang disini. Kepada akhir sejarah ini baik juga saya terangkan yang bahasa ibunda Djanewar setelah Ratna Sari lahir tidak lagi beroleh keturunan kemungkinanan tua telah mendatang. Dua belas tahun umur Lily (Ratna Sari) sampai pada akhir penutupan jalan roda sejarah ini dan kami pun tetap menambah bakal untuk perbekalan hari kemudian dengan banyak-banyak beribadat. Ada juga kami berikhtiar akan hijrah ke lain kota dengan akan menjual rumah yang sekarang di jakan Lombok no.47 tapi niat ini rupanya tidak dikabulkan oleh Allah. Rupanya di Jakarta tempat menunggu saat penghabisan.

Sampailah kami diakhir jalannya roda perjalanan sejarah kami dan sebelum nanti akan menuliskan amanat penting kepada cucu kami sebagai penutup, marilah kita bersama kembali mengingati kepada arwah orang tua-tua kita yang terdahulu memohonkn doa selamat kepada Yang Maha Kuasaagar beliau-beliau mendapat kelapangan di Alam Baka dan terjauh dari rintangan dan jawaban di Amal Masyar. Amin.Amin. Setelah itu pula kita ingati pula seorang ibu yang masih merindukan anaknya yang belum sekali juga dirawatnya yang berpisah dari anak-anak lain juga belum menghirup kebesaran mereka kesemuanya yaitu meninggal dunia di Bandung pada tanggal 4 April 1937 dan pada saat itu pula seorang bayi kecil muncul ke dunia ini juga pada tanggal yang sama tidaklah dapat oleh anak-anaknya melupakan kedua kejadian ini yaitu ibunda Rabiah dan Sofia Fieteke. Kepada sekalian anak-anaknya saya serukan agar kamu kesemuanya memanjatkan doa menadah tangan bermohon kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa agar ibunda kamu mendapat tempat disisiNya. Amin.Amin Yarabullallamin. Sebagai penutup kata dibelakang ini seruan amanat kepada cucuku yang tercinta agar kepadamu dipegang teguh dan pada waktu berguna kamu buka kembali sejarah dan tambo ini. 

Sekian.

Tidak ada komentar: