![]() |
| Anak ke-3 Juliar Syafei Joesoef |
Mulai dari anak ketiga ini, saya akan tulis persis seperti apa yang Opa tuliskan di tambo sejarah. Jadi maklum untuk bahasa jadulnya ya. Walaupun akan saya tuliskan dengan Ejaan Yang Disempurnakan.
Pada tanggal 28 Juli 1926 lahirlah anak kami yang ketiga laki-laki dan kami beri nama Juliar Syafei Joesoef. Beradiklah Soefrie diwaktu itu dalam berumur meningkat ke 3 tahun. Perawatan di rumah sakit Militer amat memuaskan kami selain dokter Militer, bidan yang ada adalah istri dari baas saya kedua seorang totok yang juga tidak mempunyai anak. Masih dalam rumah sakit sudah ada permintaan ke kami dan saya tolak karena mereka tidak lama lagi akan berangkat pulang ke negeri Belanda. Sembilan hari adinda Rabiah dirawat di rumah sakit barulah diperbolehkan pulang. Kurang lebih sebulan pula kami tinggal di rumah lama, mungkin hari rasanya telah amat sunyi rasanya, dapatlah kami pindah ke rumah baru yang jauh sedikit dari kantor di tepi laut. Jadi segalanya tidak sulit Rabiah berbelanja. Dirumah ini kami teringat kembali ketika tinggal di Oelee Lheu, setiap malam diterang ombak di ayun-ayun bunyi ombak, tempo2 kami pergi menangkap rajungan semacam udang udang ketepi laut di malam senja diterang bulan yang stelahnya dapat untuk dimakan bersama-sama. Rupanya manusia ini tidak mau senang kepingin banyak pula. Kira-kira 5 bulan setelah itu terluanglah sebuah rumah pemerintah berdekatan betul dengan kantor kami, rumah yang mana rumah tetap Jaksa2 dari kantor Keresidenan. Walaupun banyak rintangan dari pihak kantor keresidenan, namun rumah itu dapat saya tempati. Sekarang pindah pula kemari sedangkan kantor tempat saya bekerja adalah hampir dimuka rumah saya, hanya kawat berduri saja yang membatasi. Tangis anak-anak saya dari kantor kedengaran jelas. Rabiah belakangan ini sering sakit-sakit dan Juliar terus sakit. Karena rumah sakit dan dokter militer dekat dari rumah tidaklah begitu sulit untuk kami pergi berobat dan dokter pun selalu pagi datang menengok kami. Diwaktu sakit terpaksa saya dulu mencuci dan membersihkan rumah di pagi hari menjemur kain yang telah dicuci. Banyak waktu saya terlebih dulu kerja di rumah dari dikantor akan tetapi pekerjaan dikantor tidak terlantar. Di jam kantor tutup dikala anak-anak tidur saya bekerja dikantor tempo2 kerja untuk besoknya. Jadi kalau saya dipagi hari telat datang ke kantor, baas hanya melihat saja dari jendela kantor kerumah, pekerjaan untuk hari itu telah siap di mejanya. Segala apa saja pekerjaan di kantor diserahkan kepada saya selain uang kas yang dipegangnya sendiri. Diapun selalu tidak dikantor karena pekerjaan selesai semuanya. Pekerjaan saya yang begini rupa selalu dilaporkannya kepada atasan. Baas saya letnan muda ini selama bekerja bersama Saya geschiktheidnja (apa nih artinya?) telah diperolehnya dan dia dipindahkan kembai ke Kota Raja menjelang kenaikan pangkatnya. Pengganti karena menerima dari yang lama pekerjaan tetap saja tidak berubah. Laporan sanjungan tadi rupanya mendapat perhatian dari atasan apalagi baas yang tertinggi di Kota Raja kenal baik dengan saya, baas lama.
Kira2 dua tahun setengah di Lho Seumawe sudah tiga kali kami berpindah rumah. Kami dikejutkan telpon kilat dipindahkan ke Kota Raja surat pindah menyusul. Apa mau dikata perintah harus dijalankan dan kabarnya pula saya harus menggantikan seorang yang lebih tua dan tinggi pangkatnya dari saya. Setelah mengadakan lelang di tambah barang kantor lelang disertai dengan pertolongan kawan-kawan dapatlah kami beroleh sedikit uang sekedar penambah belanja serta pengambil barang2 yang tergadai. Kepada saudara saya Moeh. Said Jasin kepindahan ini saya telpon ke Langsa dengan balasan agar Soefrie ditinggalkan sama dia yang mana permintaan ini tidak kami luluskan, rupanya dia amat berkecil hati sampai hampir kira-kira 25 tahun kami tidak berkirim-kirim kabar. Di musim hujan kami berangkat ke Lho Seumawe dengan KA menuju Kota Raja sehari utuh dalam KA yang kecil ini baru bisa sampai. Musim hujan di Aceh banyak membawa bencana di jalanan KA, jembatan banyak yang terendam . Begitu pulalah di pagi itu satu jembatan tidak dapat dilalui KA terpaksa semua penumpang turun melalui pontoon namanya berpegangan tali kawat untuk keseberang, karena diseberang telah ada pula KA menanti untuk meneruskan perjalanan selanjutnya. Adinda Rabiah dikala itu telah berbadan dua kira-kira masuk 6 bulan. Di waktu maghrib baru kami sampai di Kota Raja kota mana tidak asing lagi bagi kami. Tidak berapa lama dapatlah kami rumah, rumah petak di jalan Lapasee ditepi jalan KA Oelee-Lheu. Di kantor baru di Kota Raja saya ditempatkan dibagian pembuatan gaji segala opsir2 dari sersan keatas. Rupanya yang saya gantikan banyak membuat kesalahan dalam pekerjaan. Saya bekerja dengan rajin dan mempelihatkan keahlian saya yang selama ini karena ditempatkan di bagian ini banyaklah saya mendapat hadiah dari beberapa pihak. Bagaimana tidak mereka kesemuanya yang datang ke tempat saya membutuhkan gaji dan uang perjalan pindah. Untuk belanja sehari-hari ada saja saya peroleh dan apabila dapat tidak lupa saya memberi kawan2 yang sekamar dengan saya. Hamilnya Adinda Rabiah mungkin mendekati harinya. Rumah sakit jauh dari rumah kami dan kalau akan melahirkan adinda Rabiah telah tiga kali melahirkan jadi pendapat kami tidak begitu mengecewakan.Bidan di Kota Raja amat sulit selain dari dukun yang kebanyakan pula peminum candu. Sudahlah kami tunggu dengan sabar saat yang akan datang.
Pada tanggal 18 Mei 1927 ditengah bulan yang mana pegawai sedang sulitnya beruang di pagi subuh hari adinda Rabiah merasa sakit rupanya akan melahirkan anak. Tidak ada waktu lagi bagi kami untuk memanggil ini dan itu terpaksalah saya beranikan hati saja menjawat anak ini. Ketika kawannya akan keluar saya mulai khawatir bagaimana akan seterusnya. Saya suruh ikat pinggangnya erat2 dan saya hampir jam 7 pagi berlari ke rumah penjualan candu untuk mencari dukun dan kebetulan mantrinya masih keluarga, saya ceritakan apa yang terjadi. Dia mengambil seorang dukun dengan tidak menjual kepadanya kalau hal yang terjadi tidak ditolongnya terlebih dahulu. Sejam setelah itu pekerjaan melahirkan ini telah selesai dikerjakan. Anak laki-laki kami beri nama Zaharief Joesoef. Setelah melahirkan selesai dengan selamat , saya terbang ke kantor dengan sepeda karena keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Baas saya seorang opsir mendengar hal ini dia tidak marah malahan member saya hadiah sebanyak Fl. 25,- Rupanya setelah saya melapor tadi sudah banyak orang yang menunggu saya untuk minta tolong dibuatkan persekot gaji dan jalan, karena waktu itu yang dinamakan perang Bakongan tengah berkobar. Banyak yang menunggu opsir2 dan lain2. Alhasil segala pekerjaan ini saya selesaikan dengan baik dan cepat pada hampir jam satu setelah tidak ada lagi yang memerlukan saya, saya hitung penerimaan obat jerih payah ini sampai meningkat ke Fl 95,- Pendapatan hari itu tidak saya duga-duga mungkin rezeki anak yang baru lahir. Saya diberi pulang terlebih dahulu, sebab pekerjaan telah selesai, dan disebabkan pula karena kelahiran anak kami. Dengan uang tadi saya temui Rabiah dapatlah kami selesaikan dukun tadi, pun untuk sedikit berkenduri menjamu sahabat kenalan dan belanja sebulan itu tertutup dengan pemberian tadi.
![]() |
| Anak ke-4 Zaharief Joesoef |
Roda perjalanan penghidupan dan pengalaman berjalan terus tidak sedetik terhenti. Hampir 10 bulan kami di Kota Raja stelah meninggalkan Lho Seumawe, rupanya tanpa setahu kami orangtua di kampong bekerja pula memasukkan surat permohonan ke Bandung ke kantor Pusat DvO guna dapat anak cucu sekarang yang tinggal di Aceh dapat dipindah kan ke Sumatera Barat. Dengan tidak disangka-sangka surat kepindahan ke Bandung tiba dan saya dipindahkan ke Padang di kantor yang tinggi di Sumatera Barat. Hampir setahun kami berada di Kota Raja dan meningkat umur Zaharief 2 bulan kami berlayar kembali ke negeri Padang. Kedatangan kami disambut ayahanda dan langsung menuju ke Bukit Tinggi. Kantor dimana saya ditempatkan sekarang
kurang memuaskan. Setelah adinda Rabiah kembali ke Padang telah berpindah pula rumah kami. Karena maklum rumah yang ditempatkan untuk bangsa kita tidaklah memuaskan bagi kita anak beranak. Anak-anak kebanyakan tinggal di Bukit Tingga karena mereka belum bersekolah. Di Padang saya kembali berolah raga mengambil tempat mengambil tempat lama. Satu politik mencari jalan dapat pindah ke Bukit Tinggi. Mula-mula saya campuri kesebelasan militer Padang dan setelah itu bagian lain dan nama baik naik kembali. Dengan pengaruh ini saya ajukan pindah ke Bukit Tinggi dengan keberatan karena anak-anak sakit-sakitan di Padang dan sekarang kesemuanya berada di Bukit Tinggi. Mau tidak mau baas ini meloloskan permintaan saya, pun juga dikuatkan oleh ayahanda Dt. B. Panjang yang membilangkan saya adalah salah seorang penghulu yang diperlukan di keluarga di Agam. Ada kira-kira 2 bulan kami di Padang dipindahkanlah kami ke Bukit Tinggi tempat yang saya idam-idamkan itu. Ayahanda Dt. B Pandjang kala itu telah pindah rumah secara telah membeli dikampung bawah Gudang. Dalam kami kembali, Bukit Tinggi kota sejuk, cantik tidak besar pun tidak kecil, cukup kira berjalan kaki barang kemana. Pun kantor tidak jauh dari rumah tangsi Militer Sapiran nama tumpaknya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar