27 Sep 2011

Masa Perkembangan Kedua - Anak ke 11 dan ke 12

Anak ke-11 Zainal Arifin

Kita meningkat ke tahun 1943, ibunda Djanewar sekarang dalam hamil. Pada tanggal 27 Desember 1943 lahir pula seorang anak laki-laki kami beri nama Zainal Arifin. Dalam tahun 1943 inilah saya datang ke Jakarta mengantarkan romusa yang akan dikirm ke Sonanto (Singapura) sebanyak 1500 orang. Perjalanan ini dilakukan dengan K.A. Dua malam dua hari baru sampai Klender Jakarta. Makanan untuk mereka ini dimana telah disediakan oleh kantor yang sama juga di keresidenan2. Lima belas hari jalan pulang balik dengan melalui Bandung kembali saya ke Malang kembali. Di Jakarta saya datangi sdr. Roesli yang tinggal di gang Tengah Jatinegara. 

1944 – Peperangan Asia Timur Raya berjalan terus pada permulaan tahun 1944 api peperangan telah ada balas-membalas di pasifik. Anna dalam pada itu telah memasuki sekolah menengah, Soefian telah mulai disekolahkan tinggal saja yang dirumah Sjafrie dengan adiknya Arifin.

1945 – setelah Arifin lahir kita masuki tahun 1945. Arifin nana kecil Pipin telah meningkat ke umur setahun. Kami tetap tinggal di jalan Immamuradoori (Kertanegara) dekat betul dengan station Malang. Rupanya bagi manusia diatas dunia ini, kesenangan, kemenangan, kekayaan tidak tetap, sebagai roda dunia berputar. 

Api peperangan Jepang degan kemenangannya yang gilang gemilang tahun-tahun terhenti dalam bulan Agustus 1945 Jepang menyerah kalah, sebab menurut berita radio negeri Jepang kejatuhan bom atom di Hirausima. Dalam pada itu pemimpin-pemimpin Indonesia di Jakarta bekerja keras dengan tidak memikirkan diri sendiri pada tanggal kramat 17 Agustus 1945. Pemimpin besar kita Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Indonesia Merdeka; akibat-akibat yang lain akan kia bersama tanggungkan. Keadaan diwaktu dimana-mana saja lebih-lebih ditanah Jawa amat bergembira dan kecewa bakal apa nanti yang akan datang, tapi rakyat dengan dada yang tenteram. Disini sana kedengaran Merdeka, Merdeka!

Kita bangsa Indonesia setelah ini telah merdeka dari Sabang sampai Merauke, yaitu Hindia Belanda dahulu. Jepang kalah zonder sarat dan Sekutu akan datang ke Indonesia melucuti senjata Jepang dan menawan mereka, dalam pada itu kita bangsa Indonesia telah lebih dahulu sedikit bersedikit dengar Pemuda telah dapat melucuti Jepang dan mereka telah mempunyai senjata, yang merupakan senjata ringan saja. Pekik merdeka berkumandang di udara. Pengorbanan bakal banyak akan terjadi ini terlebih dahulu kita telah pikirkan. Mendaratlah Sekutu di Tanjung Priok Jakarta dan dengan tidak disangka-sangka beberapa Belanda membonceng sebagai kenek sopir mobil datang kembali. Banyak dari mereka dikenal oleh penduduk, disinilah asal muasalnya perlawanan terjadi. Terjadilah pendaratan ditiga tempat negeri (kota) yang ditepi laut Jakarta, Semarang dan Surabaya. Diketiga tempat itulah kenek mobil sopir tadi ikut membonceng rupanya telah pula dipersenjatai. Karena korban sudah ada yang jatuh, maka dimana-mana telah diadakan Palang Merah dan saja telah pula menggabungkan diri dalam bulan September 1945 di Malang. Ad juga Belanda ini 2 atau 3 orang sampai ke Malang hanya melihat tawanan di kamp perempuan untuk dapat dikembalikan ke Surabaya ke kapal agar dapat dikirim ke tempat dimana suami-suaminya. Dimana-mana panik dengan kedatangan Belanda pembonceng tapi mereka kebanyakan di negeri yang ditentukan tadi. Mulai bulan Oktober 1945 pertempuran dimana-mana telah terjadi sebab Belanda akan memulai menjajah kembali. Mereka sudah banyak dalam ketiga tempat itu dan kita Bangsa Indonesia tidak akan mundur, kalau mundur berarti mati.
Surabaya mulai bulan November 1945 digempur sekutu besar-besaran karena kiat tidak mau menurut kemauan mereka. Disinilah terjadinya anak-anak kami menginjakkan kakinya dalam kancah brontak Soefrie, Juliar, Zaharief dan Zainuddin. Keluarga R.Sanoesi mengungsi ke Malang karena kantor Gubernur diungsikan sampai kemari dan kantor2 lain di Surabaya ada yang ke Mojokerto dan sekitarnya. Kita bangsa Indonesia telah siap pula membuat pertahanan rakyat berbondong kita menjadi pembela yang dipelopori oleh Peta yang dipelajari oleh Jepang tempo hari. Karena mempunyai senjata yang lebih modern kita mengundurkan diri dari Surabaya yang terlebih dahulu separo Jepang oleh mereka di Surabaya telah dibawa dengan kapal. Tinggal lagi yang kebaykan di pedalaman. Sekutu dan Belanda telah menduduki Surabaya kita mempertahankan disekitarnya. Setahun lamanya Belanda memperkuat diri sekarang kita memasuki tahun 1947. Kami masih tetap di Malang tinggal di Jalan Kertanegara. Api pemberontakan kita bangsa Indonesia menjadi-jadi pemuda tidak alang kepalang memasuki kancah perjuanagan ini, musuh kita Belanda hanya sampai diketiga tempat tadi. Dalam tahun inilah bulan awal Juni Juniaar kami kawinkan dengan Zainal Zain orang Minang yang berasal dari daerah Pariaman tapi dibesarkan di tanah Jawa. Anak yang berasal dari daerah Pariaman tapi dibesarkan ditanah Jawa. Anak pertama dikawinkan kesemua kelaurga ada bersama di Malang, uang kami cukup boleh dibilangkan segala ada dapat pula dimengerti bagaimana besarnya perhelatan ini, kawan kawan hamper kesemuanya datang. Perhelatan ini diadakandi jalan Kertanegara 3. Ibunda Djanewar sebelum itu telah dalam berat kembali dan sebelum Juniar dikawinkan ibunda Djanewar dirumah sakit Rampal telah melahirkan.
Anak ke-12 Sitti Murni Zoraida Joesoef

Pada tanggal 8 Juni 1947 lahirlah di rumah sakit Rampal seorang anak perempuan kami beri nama Sitti Murni Zoraida Joesoef dalam rumah sakit tadi ibunda Djanewar dibidani pula oleh anakanda Juniar yang dalam itu dia telah belajar sekolah kejurusan itu.
Korban-korban perjuangan dari sekitar Surabaya telah banyak yang jatuh dan dikebumikan sebagai bunga bangsa di Malang. Tentara Jepang telah diurus oleh tentara rakyat kita pula mengirimkan kepada Sekutu, tidak mereka dibenarkan datang ke pedalaman, bangsa Belanda yang masih ada dalam tawanan kita berangsur-angsur pula oleh Palang Merah Indonesia kita mengirimkan dengan K.A ke Jakarta. Nica Belanda telah membuat pula semaunya di tempat-tempat tadi yang didudukinya terutama Jakarta, hebat perjuangan kita terhadap mereka. Tadi telah saya ceritakan Soefri, Juliar, Zaharief dan Zainuddin terus berjuang di medan depan sekali-sekali tempo mereka pulang. Pada rombongan yang penghabisan pengiriman tawanan Belanda ke Jakarta ikutlah saya sebagai misi Palang Merah Indonesia ke Jakarta. Tidak saya sangka apa yang akan terjadi dan apa pula niat mereka Belanda setelah orangnya kesemuanya telah berada di Jakarta. Saya berangkat ke Jakarta dengan K.A meninggalkan anak-anak kesemuanya di Malang. Misi kami mengantarkan lebih dari 2000 tawanan Belanda ke Jakarta via Jogjakarta dan Cirebon, pada akhir bulan Juni 1947. Setelah kami berada di Jakarta diakhir bulan ini pada tanggal 23 Juli 1947 saat kami akan kembali ke Malang, Belanda mengadakan aksi pertama katanya akan terus mendobrak pertahanan kita, saja berada di Jakarta , bagaimana pula anak-anak ditinggalkan di Malang, kedua kalinya hal ini terjadi pada saya.
Cerita tadi menurut saya sudah hampir memasuki dokumentasi pemerintah yang tidak ada sangkut pautnyadengan sejarah keluarga tetapi hal-hal ini tidak dapat saya tinggalkan begitu saja, telah saya katakan dengan peperangan dan pemberontakan rakyat tadilah tersangkutnya perpisahan dan pertemuan anak-anak saya dan keluarga kesemuanya. Jadi tidak ada buruknya cerita ini masuk pula dalam sejarah kita. Aksi pertama telah diadakan Belanda saya tertahan di Jakarta, bagaimana akan kembali, Malang telah diduduki Belanda. Terlonta-lontalah saya di Jakarta di rumah Palang Merah Indonesia ditawan Belanda pula, karena segala yang berbau R.I ditahan mereka kesemuanya. Pertempuran mempertahankan Negara berjalan terus, walaupun ada Negara kita ke Jawa Timur walaupun menelan beberapa kejadian, pertolongan dari pihak mereka, karena banyak Belanda yang tahu kepada saya yaitu yang dari tentara KNIL dahulu, saya bersama dokter Hassim Syahab dapat naik kapal terbang kembali ke Surabaya. Sehari dua kami di Surabaya dengan kendaraan mobil truk Tiong Hwa Palang hijau mereka dapatlah kami berdua datang di Malang, malang sunyi senyap disore itu dengan hati berdebar-debar saya pulang ke Kertanegara dengan melalui beberapa pos penjagaan Belanda. Sampai dirumah keluarga tidak ada selain Soefri dan Nazar yang saya dapati. Menurut Soefrie ibunda anak-beranak dan ayahanda bunda mengungsi mula2 ke Sukun bersama Roeslan dan Roesli dan waktu Belanda menduduki Sukun maka mereka teruskan mengungsi ini jauh ke pedalaman menurut cerita ke Madiun. Baiklah saya pendekkan pengalaman ini setelah ketemu kami berada di Blitar. Dari Blitar inilah saya bersama Nazar masuk kembali ke Malang, mengambil apa yang dapat kami bawa pecah belah ke Blitar, lumayan juga kembali ini. Setelah saya kembali ke Blitar Soefrie tertangkap oleh Belanda dan Nazar ketika akan kembali kedua kalinya tertangkap pula. Sedangkan kami sekeluarga berada di Blitar bertempat tinggal di ruang sekolah. Adinda Moehd. Rasoel waktu kami di Blitar ini kami tinggalkan Madiun dan setelah itu ditempatkan di Jogjakarta, waktu dia datang ke Blitar diajaknya kami ke Jogjakarta, kami pindah kesemuanya Ibu kota R.I. Juniar dengan suaminya Zainal Zain dan anaknya pun pindah pula ke Jogjakarta. 

Disinilah kami kesemuanya tinggal di Ngasem selain dari Soefrie dan Nazar yang masih ditahan Belanda. Di ibukota inilah kami berada meneruskan sejarah senang tidak susah pun tidak, bekerja saya masih di Kem.Perburuhan tapi hanya datang saja ke kantor dengan tidak ada yang dikerjakan, maklum kesemua pegawai dari mana saja yang termasuk perburuhan menggabung menjadi satu penuh sesak pegawai gaji dibayar terus. Hidup untuk makan tidak begitu disusahkan karena kami pun banyak menaruh apa-apa yang dapat akan dijual selain gaji. Ada kira-kira setahun kami di Jogjakarta ini terjadilah perpindahan kerja saya masuk dalam kementrian Pemuda yang mengurus transmigrasi rakyat untuk luar Jawa. Kontak Indonesia-Belanda diadakan, waktu itu banyak di kantor kami yang dapat berangkat ke Jakarta dan dapat tempat diluar Jawa. Perundingan terdapat saya ditempatkan di Bukit Tinggi bagian tersebut. Tadi tapi bagaimana akan sampai ke Jakarta saja, resiko sendiri, dari Jakarta telah dapat ladenan yang sempurna oleh perwakilan kita R.I. hal serupa ini saya rundingkan kepada ibunda Djanewar yang dia mufakati. Ayah bunda Dt.B.Pandjang dalam pada itu telah kembali ke Blitar bersama Dalima, sebab sdr. R Sanoesi masih tetap menjadi Sekretaris Gubernur Jawa Timur yang bermarkas di Blitar. Soefrie setelah menjalankan masa tawanan hampir 10 bulan dapat lepas dan datang ke Jogjakarta tepat waktu kami akan bersiap-siap berangkat. Juliar dalam pada itu sebelum kami berangkat kawin dengan keluarga yang lama kami kenal diwaktu bersama di Surabaya. Juliar kawin dengan Wien teman sekolahnya dahulu, ibunda Djanewar dari Jogjakarta menghadiri perkawinan ini di Kediri. 

Waktu kami berangkat ke Jakarta melalui Gombong Soefrie dan Soefian lah yang mengantarkan kami dengan kawan-kawannya pula sampai-sampai ke perbatasan. Tidak berani kami membawa dia berdua karena menurut berita kita, kalau pemuda tentu akan ditangkap Belanda, kami tinggalkan Soefrie, Soefian diperbatasan Kemit nama kampungnya daerah tidak bertuan dan dari sini kami harus diantar oleh penjaga kita dengan bendera putih ke pos Belanda. Hampir-hampir tidak diperbolehkan mereka kami masuk, karena waktu telah ampir sore karena perjanjian lewat jam satu tidak ada lagi menerima orang, sedangkan kami telah hampir jam setengah tiga sampai disana, karena kami membawa anak kecil Nini dan panasnya tempat itu tidak tertahan kami diperbolehkan masuk ke Pos mereka. Jam lima kami dibawa dengan truk ke Gombong 15 KM dari tempat tadi dan ditempatkan di tempat tahanan orang-orang yang akan ke Jakarta. Malam itu telah dapat kami kabar yang bahasa Nica-nica itu kebanyakan dari anak-anak Indo Padang, salah satu dari mereka datang kepada kami bertanya ini dan itu, rupanya beberapa dari mereka mengenal saya dari mana saya dahulu bekerja dan hal ini dilaporkannya pada atasannya. Pendeknya saya dipekerjakan kembali karena komando Gombong mengenal baik saya kawan sepermainan olah raga di Padang dan Aceh pada sebelum perang. Bagaimana saya akan mengelakkan tidak, dan terkadaslah maksud perjalanan ke Sumatera Barat bagian transmigrasi rakyat tadi. Dengan mendapat apa yang diperlukan rumah persekot gaji mulai saya bekerja, kerja lama sebelum perang dan takjub pulalah baas baru ini yang orangnya kebanyakan tentara sedang perang orang baru saja, beberapa yang tinggilah yang masih tenaga lama. Tidak lama kami di Gombong pada aksi kedua tgl 18 Desember 1948 Belanda melanjutkan doorstoottnja ke Jogjakarta, malam yang tidak dapat saya lupakan waktu itu. 
Mereka mulai bergerak dimalam hari, kepada anak2 Nica-Padang tadi telah saya pesankan andai kata bertemu dengan anak saya si ini si itu dan potretnya diberikan sekali, bawa kembali kepada kami. 

Dua hari setelah dimulai aksi kami berangkat ke Magelang, karena Magelang telah ditinggalkan oleh kita R.I. Di Magelang kami pula berada anak beranak. Tinggal dirumah opsir yang masih utuh. Sedih kita melihat keadaan kota Magelang diwaktu itu, puing rumah yang banyak tinggal. Tawanan banyak yang saya lepaskan kebanyakan dari mereka pemuda kesemuanya. Alasan dari saya karena pemuda ini banyak yang anak dari teman saya yang berada di Ibukota Jogja. Kalau tidak dilepaskan harus saya juga ditawan sekali, karena anak-anak saya pun turut berjuang pula menegakkan Negaranya sendiri. Dari Magelang inilah kami dapat membaca surat kabar, yang bahas sdr.R. Sanoesi telah ditangkap Belanda kembali bersama Pemerintah RI yang ada. Mereka ditempatkan kembali di Surabaya dan Dalima da ayahanda bunda berada kembali bersama anak2 di Surabaya. Pun Soefrie, Soefian, Nazar berada kesemuanya disana. Zaharief menurut berita dan surat setelah itu kami dapati berada di Nganjuk dengan istri dan anaknya di kampong istrinya. Tidak lama kami di Magelang dipindahkan ke Semarang ditempatkan dikantor yang lebih ramai pekerjaannya.

Tidak ada komentar: