![]() |
| Anak ke-8 Soefian Joesoef |
Juniar setelah menginjak ke sekolah menengah kelakuannya terhadap adik-adiknya masih ada. Dan setelah Anna berumur empat tahun ibunda Rabiah berbadan dua, hal-hal untuk ini tidak begitu kami berdua khawatirkan karena Bandung penuh dan cukup tentang pertolongan, dokter, bidan ada saja. Pada 26 Juni 1934 lahirah seorang bayi laki-laki degan selamat di Rijpwijk Bandung dan kami beri nama Soefian Joesoef. Beberapa bulan setelah Soefian lahir, ibunda Rabiah merasa badannya dibelakangan hari sakit-sakit dan banyak bermenung-menung. Saya tidak dapat membiakan, kami berikhtiar berobat kian kemari karena dokter banyak di Bandung lebih-lebih dokter Militer. Berkat yakin kami dan ditambah dengan perawatan yang meyenangkan adinda Rabiah berangsur sehat. Tjimahi lah pusat dari Kedokteran Militer di Bandung dan berganti hari kami kesana sampai ongkos-ongkos banyak yang dibayar sendiri oleh dokter2 Militer tadi. Saya dalam pada itu dari kantor besar tadi dipindahkan ke Tjimahi tempat mana ada mendatangkan hasil dan dalam kepindahan ini kami gunakan uang persekot akan ganti penambah penutup lubang yang perlu dibayar. Pada suatu petang ibunda Rabiah mengusulkan untuk mencari rumah sedikit kedalam kampung yang dapat dibeli diansur dan dalam itu diperbaiki. Sudah banyak kawan-kawan pindah ke kampung dengan menyicil. Usulan ini temakan pula oleh saya dan menyerahkan persoalan ini dijalankan. Karena kalau masih tinggal dirumah pemerintah ini, utang sedikit banyaknya akan bertambah juga, kalau dikampung si tukang jalan utang akan berpikir dahulu memberi pinjaman. Pikiran luas dari ibunda Rabiah amat saya hargai dan juga untuk kemudian hari bagi anak-anaknya. Keinginan ibunda Rabiah dapat dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa bersama ayahanda mencari tidak berapa lama dapatlah sebuah rumah kepunyaan seorang dermawan kaya bangsa Tiong Hwa di kapung Djelekong gg. Wiranta. Rumah ini oleh ayahanda sedikit demi bersedikit diperbaiki dengan mendapat segala bahan-bahan dari empunya karena dia menjual segala perabot2nya. Rumah yang tadinya hanya merupakan rumah tinggal saja dan dipergunakan sebagai gudang dan sekarang diperbaiki telah amat baik dan sederhana gg.Wiranta di Djelekong itu tidak begitu jauh dari jalan besar Bandung Tjitjadas kira-kira antara 50m jaraknya dari rumah. Walaupun kesekolah sedikit jauh dari yang sudah, tetapi mereka merasa senang juga. Dan sekolah mereka kesemuanya ada maju. Soefian bertambah besar dan sangat di sayang sama pak Gaeknya, tapi didikan tidak seperti ibunda Moeni dahulu terhadap Juniar. Dari kecilnya Soefian telah menunjukkan tanda2 bahwa dia bakal seorang pengembara tidak mau tetap setempat dikuatkan pula oleh orang2 yang banyak kami temui dijalan agar anak ini dijaga baik-baik. Anak kesayangan Pak Gaeknya nama kecil anak Radja. Setelah besar sekolahnya pun tidak tetap juga dan mudah-mudahan akan mendapat rahmat seterusnya.
Dunia berjalan terus keadaan kami tidak banyak perubahan dari yang sudah2 hanya sedikit bersedikit tidak banyak lagi kami membuat utang. Ibunda Rabiah bermenung-menung diakhir ini tidak ada lagi sakit2 dan bertukar dengan selalu gembira dalam tutur kata, sopan santun sesama tetangga bertambah-tambah dari yang sudah2 baiknya. Mungkin karena dia sedang dalam hamil, tidak dapat kami ketahui sering dia bermain bersama anak-anaknya mengajar mereka dengan perkataan yang manis-manis dan selalu menasihatinya. Menyuruh yang rajin-rajin belajar, kalau sudah besar dan bekerja telah dapat menolong ibu. Kalau ibu tidak ada lagi harus baik-baik membawakan diri. Saya anggap ini ada tempatnya guna mengajar anak-anaknya. Tepat apa yang diterangkan oleh guru-guru Agama, bahwa tidak ada seorang pun umat di dunia ini bisa menentukan hari depan mereka selain Allah Yang Maha Kuasa. Kesemua anak2 bersekolah yang masih tinggal di rumah, Anna dan Soefian. Tiba pula waktunya kami akan menyunat rasoelkan kedua anak yaitu Juliar dan Zaharief, peralatan walau bagaimanapun kami kerjakan. Tidak sedikit pula kawan-kawan sejawat yang datang begitu pula orang-orang kampung sekitar nya. Rupanya maksud dan cita-cita adidnda Rabiah terkabul semuanya, rumah telah ada, anak yang mesti disunatkan telah berlalu. Apakah yang dicita-citakan ini terkabul kesemuanya ini, dia gembira dll, tidak dapat kami ketahui dia pun tidak membilangkannya. Kepada anak-anaknya dia bertambah kasih sayang, Juniar selalu dinasihatinya karena dialah yang tertua agar nanti menjagai adik-adiknya sekiranya dia telah tidak ada lagi . Pendek kata dalam segala perobahannya terasa dan dilihat. Saya sendiri tidak mengira apa-apa yang akan terjadi, tentunya dia berbuat sedemikian rupa terhadap dirinya sendiri. Ataupun karena hamilnya telah akan mendekat. Akan tetapi walaupun sedemikian kecurigaan kami tidak begitu jauh, karena kalau dia hamil tidak untuk yang pertama. Rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa tidak dapat kita ketahui dan Dialah yang menentukan mana-mana yang terbaik bagi hambaNya. Saat kelahiran anak yang dikandungnya tiba, Bandung di waktu itu musim hujan, kampung Djelekong terendam air. Bandung kalau sudah mulai hujan terus menerus. Karena hujan terus menerus sore-sorenya karena kesemua anak-anak berada di rumah jam 5 kami telah bersedia bersiap-siap makan, karena anak-anak harus belajar. Selesai segalanya pun bersedia pula menghadapi malam.
Tepat jam 6 sore ibunda telah merasa meriang, tanda tentu waktunya tiba, bersiaplah kami memanggil bidan yang tinggal tidak jauh dari rumah. Bidan Nababan namanya orang kita juga. Pada tanggal 4 April 1937 di senja hari dan hujan telah mereda turunnya, melahirkanlah ibunda Rabiah seorang anak perempuan tepat jam setengah tujuh maghrib. Segala sesuatu telah selamat dan bidan Nababan bersiap-siap akan pulang, ibunda Rabiah merasa badannya dingin, dingin yang berlainan dari yang sudah-sudah, diselimuti dia bertanyakan anaknya. Perempuan anak saya ya? Kekhawatiran kami belum ada apa-apa yang akan terjadi, tapi setelah dia membilangkan kembali badan saya bertambah dingin , Bidan menganjurkan agar dipanggil dokter spesialis . Tepat salah satu berangkat dan dokter datang memeriksa keadaannya. Menurut dokter Bloedarnude apa yang dikatakan oleh dokter memberi pertolongan, ditolongnya sebagaimana bisanya. Sepeninggal dokter, ibunda Rabiah berkata jaga anak-anak baik-baik maka yang ketawa dia meninggalkan kami kesemuanya selama-lamanya dan tidak akan kembali lagi.
![]() |
| Anak ke-9 Fieteke Soefiati Joeseof |
Tanggal 4 April 1937 tanggal lahirnya Fieteke Sofiati, ibunda meninggal dunia di Djelekong gang Wiranta Bandung, ibu yang belum mengasihi dan mencium anaknya. Gelap pemandangan kami sampai keluarga2 yang melayat tidak saya acuhkan. Tidak tentu yang kami kerjakan, untung kawan-kawan orang sekampung baik-baik merekalah yang mengurus kesemuanya malam itu. Rupanya di malam itu juga oleh saudara Baharuddin yang mana yang dapat ditelpon atau dikawat dikerjakannya semalaman. Keeseokan paginya datanglah keluarga dan kawan-kawan yang berjauhan rumahnya dan pada hari itu jenasahnya akan dikebumikan. Hal perkuburan oleh orang kampung telah diurus semalam itu, yaitu perkuburan keluarga di Tjitjaheum di jalan ke arah Sukamiskin. Yang dari luar kota yang dapat datang di hari itu terdapatlah saudara kita Roesli dari Betawi dan yang dari Surabaya tidak dapat datang karena jauh. Pada siang hari beberapak kawan2 sobat lama datang memberi belasungkawa kepada saya sedangkan saya tidak ada merasa kejadian apa-apa. Saudara Moeh Nazir guru Agama kami di Bandung memberi saya penerangan secara agama yang oleh saya maklum karena pikiran kurang sehat menanyakan dimana keadilan terletaknya, karena si bayi ini perlu rawatan. Moeh. Nazir seorang guru agama yang halus tutur bahasanya memberi penerangan yang mendalam sehingga saya harus meyakinkan apa-apa yang diterangkannya umat manusia harus menerima segala ujian dan tunduk bersabar karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah menentukan segalanya dan waktunya. Ujian kepada umat tidak akan putus-putusnya dengan ujian inilah pula kita harus beriman. Ibunda Rabiah berpulang ke rahmatullah panggilan Tuhan, panggilan suci, saat hari jamnya telah ditentukan tidak seorang pun dapat bantah atau minta tangguh, lari dari saat yang ditentuakan. Tuhan itu satu dan satu pula segala kejadian yang diberikan putusannya. Moeh Rasoel diwaktu ibunda Rabiah meninggal, adik yang paling bungsu yang dikasihinya bersama juga di Bandung diwaktu meninggal sebelumnya masih menayakan adiknya yang amanatnya kepada saya adiknya tempat anak-anaknya di hari kemudian jauh tempat menghimbau dekat tempat bertanya. Kami antarkan jenasah bersama pada saat matahari menurun ke Barat ke tempat ibunda Rabiah terakhir beristirahat dunia yang fana ini ke alam baka di kampung Tjijaheum Bandung. Yah, dia tidak akan kembali selama-lamanya. Saya sebagai ayah saya anjurkan kepada anak-anaknya, cucu-cucunya sekalian, siapa-siapa kamu datang berziarah kesana ke makam beliau panjatkanlah doa kamu sekalian membacakan kedua kalimat Syahadat suci dan mulia itu mendahkan tangan memohon kehadirat Allah SWT agar arwah beliau mendapat tempat, ditempat yang berdampingan dengan DiaNya. Amin Amin Yarabullalamin.
Saya suaminya ibunda Rabiah tidak akan dapat melupakan hari yang bersejarah tadi sampai nanti tiba pula saatnya datang kepada saya nanti. 4 April 1937 ibunda Rabiah meninggal dunia. 4 Aprill 1937 lahir bayi kecil Fieteke Sufiati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar